Bencana Meluas, Data Korban di Pulau Sumatera Terus Bertambah

Unknown's avatar
Foto udara banjir merendam Desa Teupin Peuraho, Arongan Lambalek, Aceh Barat, Aceh / Dok : ANTARA FOTO/ SYIFA YULINNAS

LENTERA MALUT — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis data terbaru terkait bencana alam yang melanda Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar) tercatat telah memakan korban sebanyak 174 orang meninggal dunia dan 79 orang lainnya masih dinyatakan hilang.

Kepala BNPB Letjen Suharyanto mengatakan angka tersebut masih bersifat sementara, karena proses pencarian masih berlangsung di sejumlah titik terdampak.

“Untuk Aceh, ada 35 jiwa meninggal dunia, 25 orang masih hilang, dan delapan warga mengalami luka-luka,” ujar Suharyanto dalam konferensi pers yang disiarkan melalui kanal YouTube BNPB Indonesia, dikutip dari detik.com Sabtu, (29/11/2025)

Sementara itu di Sumatera Barat, jumlah korban meninggal mencapai 23 orang, dengan 12 orang masih hilang dan 4 orang luka-luka.

Menurut Suharyanto, wilayah yang paling parah terdampak di Sumbar mencakup Padang Pariaman, Tanah Datar, Solok, dan Kota Padang. Total sedikitnya 3.900 keluarga terdampak akibat banjir, longsor, dan kerusakan akses infrastruktur.

Adapun Sumatera Utara tercatat sebagai wilayah dengan korban terbanyak, yaitu 116 orang meninggal dunia. Masih ada 42 orang yang belum ditemukan.

“Per sore ini, untuk Provinsi Sumatera Utara, korban meninggal tercatat 116 jiwa dan 42 masih dalam pencarian,”lanjutnya.

Berdasarkan laporan BBC, hujan ekstrem yang berlangsung sejak awal pekan menyebabkan banjir bandang dan tanah longsor, merusak ribuan rumah dan memaksa ribuan warga mengungsi.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut bencana ini dipicu oleh Siklon Senyar, fenomena cuaca langka yang terbentuk di wilayah dekat garis khatulistiwa.

Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, menegaskan bahwa kejadian ini jarang sekali terjadi di Indonesia.

Sementara itu, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menilai kerusakan ekologis akibat ekspansi industri ekstraktif dan minimnya tata kelola lingkungan turut memperburuk dampak bencana.

“Hujan ekstrem tidak berdiri sendiri. Kerusakan lingkungan membuat risiko bencana semakin mematikan,”ungkap pernyataan Walhi.

BNPB memastikan operasi pencarian, evakuasi, dan penyaluran bantuan logistik akan terus dilakukan hingga seluruh korban ditemukan. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *