Mengenal AGK Lewat Buku, Melampaui Riuh Jagat Maya

Unknown's avatar

LENTERA MALUT – Di tengah derasnya arus opini dan sentimen di media sosial, membaca ulang perjalanan hidup seorang tokoh lewat karya tertulis menjadi cara paling jernih untuk memahami sosoknya secara utuh.

Itulah yang ditawarkan buku “Potret Tiga Panggung: Gubernur sang Kiai”, sebuah karya reflektif yang mengajak pembaca mengenal lebih dekat almarhum Abdul Gani Kasuba (AGK), mantan Gubernur Maluku Utara periode 2014–2023.

Buku yang diterbitkan Kanisius pada 2023 ini dapat menjadi bahan refleksi kita atas narasi  salah paham—membuka ruang pembacaan yang lebih tenang, mendalam, dan berjarak dari hiruk-pikuk desas-desus yang kerap berseliweran di jagat maya.

Melalui kumpulan tulisan para penulis yang pernah berinteraksi langsung dengan AGK, pembaca diajak menelusuri jejak hidup sang Kiai tidak dari gosip atau prasangka, melainkan dari kesaksian dan pengalaman nyata.

Ditulis oleh sembilan penulis lintas latar belakang—Syaiful Bahri Ruray, Kasman Hi. Ahmad, H. Usman Muhammad, Murid Tonirio, Herman Oesman, Agus Salim Bujang, Irmon Machmud, Salim Taib, dan Fahrul Abd. Muid—buku ini memotret AGK dalam tiga ranah utama kehidupannya: sebagai guru-pendidik, da’i, dan politisi. Sebuah potret yang utuh, manusiawi, sekaligus reflektif.

Judul Potret Tiga Panggung sendiri lahir dari cara para penulis melihat kehidupan AGK sebagai ruang-ruang peran yang saling berkelindan. “Panggung” dimaknai sebagai ranah pengabdian—tempat AGK menjalani peran dan tanggung jawabnya, bukan sebagai sosok yang terpisah-pisah, melainkan satu pribadi yang bergerak dinamis dalam siklus kehidupan sehari-hari.

Buku ini disusun dalam empat bagian utama. Bagian pertama Di antara Dua Tradisi mengulas peran AGK sebagai pendidik dan pendakwah. Bagian kedua Tiga Panggung sang Kiai menyoroti pergulatan kepemimpinan dan politiknya. Bagian ketiga Dakwah Hingga ke Ufuk merekam konsistensinya dalam dakwah Islam. Sementara bagian keempat menyajikan kesaksian personal dari putri AGK, yang menghadirkan sisi keluarga dan kemanusiaan sang Kiai secara lebih intim.

Dalam pengantarnya, para editor menegaskan bahwa buku ini bukan biografi lengkap hasil riset akademik, melainkan kumpulan kesaksian dan refleksi. Karena itu, masih ada “ruang kosong” yang tersisa—ruang yang justru menjadi undangan terbuka bagi pembaca dan penulis lain untuk terus menggali, menafsirkan, dan belajar dari perjalanan hidup AGK.

Rencana penulisan buku ini sendiri lahir dari dorongan kuat para pengurus Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Orwil Maluku Utara. Diskusi-diskusi informal yang berlangsung di sela kegiatan organisasi akhirnya bermuara pada kesepakatan untuk mendokumentasikan jejak AGK dalam bentuk buku, sebagai warisan pemikiran dan pengalaman bagi generasi berikutnya.

Saat ini, Potret Tiga Panggung: Gubernur sang Kiai tersedia dalam format digital melalui Google Play Books dengan harga Rp120 ribu. Bagi pembaca yang ingin memahami sosok AGK secara lebih jernih—melampaui narasi hitam-putih—buku ini menjadi bacaan penting, reflektif, dan penuh pelajaran hidup. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *