LENTERA MALUT — Langkah pertama menuju Jembatan Dodoku Ali bukanlah panorama laut, melainkan lubang-lubang di jalan beton yang menyambut setiap pengunjung.
Di Kelurahan Salero, setapak sempit menuju jembatan itu telah retak dan berlubang, memaksa pengendara roda dua melambat, sementara mobil harus mencari tempat parkir alternatif di luar kawasan.
Di pintu masuk, warga setempat tak henti memberi peringatan. “Hati-hati, jembatannya sudah banyak yang rusak,” ujar seorang bapak sambil menunjuk ke arah papan-papan kayu yang mulai lapuk.
Begitu kaki menginjak jembatan, peringatan itu terasa nyata. Beberapa papan lantai sudah berlubang, sebagian lagi goyang saat diinjak. Setiap langkah harus diperhitungkan, seperti sedang menyeberangi titian rapuh di atas laut.
Namun, ironi justru hadir di situ. Meski kondisi jembatan kian mengkhawatirkan, jumlah pengunjung tak pernah sepi. Dari atas Dodoku Ali, mata dimanjakan panorama laut Ternate yang tenang, gugusan pulau-pulau kecil di kejauhan, serta Gunung Gamalama yang menjulang gagah.
Air laut yang jernih memperlihatkan terumbu karang dan ikan berwarna-warni, menjadikan tempat ini salah satu wisata bahari termurah dan terindah di tengah kota. Di sinilah orang-orang memilih bertaruh dengan keselamatan demi menikmati keindahan.
Padahal, jembatan bersejarah ini bukan tanpa perhatian. Pemerintah Kota Ternate sempat melakukan perbaikan pada 2022. Namun, terjangan ombak dan gelombang tinggi yang terus menghantam membuat kayu dan struktur jembatan kembali melemah, perlahan-lahan dikalahkan oleh alam.
Dodoku Ali bukan sekadar tempat swafoto. Ia adalah saksi sejarah panjang Kesultanan Ternate. Sejak abad ke-17, jembatan ini telah menjadi jalur penting perdagangan rempah-rempah dan hasil kebun rakyat. Di sinilah denyut ekonomi dan peradaban pesisir pernah berdenyut.
Nur, seorang pengunjung yang datang bersama keluarganya, berharap warisan itu tak dibiarkan rusak. “Harapannya ada perhatian, mulai dari jalan masuk sampai jembatannya,” katanya, Ahad (11/1/2026).
Menurut perempuan yang memiliki satu anak itu, kondisi rusak saja tak menyurutkan orang untuk datang. Apalagi jika jembatan diperbaiki dan ditata lebih baik, kawasan ini bisa menjadi magnet wisata yang jauh lebih kuat.
Sayangnya, bukan hanya jembatan yang memprihatinkan. Taman di kawasan Dodoku Ali juga tampak terbengkalai. Rumput liar tumbuh tinggi, sampah berserakan, dan suasana terlihat kumuh. Lapak-lapak pedagang sandal dan cenderamata berdiri tanpa penataan, hanya bernaung di bawah terpal seadanya saat hujan turun.
Di tengah keindahan laut dan sejarah yang megah, Dodoku Ali kini berada di persimpangan: antara menjadi ikon wisata pesisir Ternate, atau perlahan-lahan runtuh sebagai kenangan yang dibiarkan lapuk oleh waktu. (Red)





