LENTERA MALUT – Insiden kurang mengenakkan terjadi usai pelaksanaan Musda VI Partai Golkar Provinsi Maluku Utara pada Minggu (12/4/2026) di Hotel Bella Ternate. Seorang ajudan dari Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, diduga melakukan tindakan kekerasan terhadap seorang wartawan yang tengah menjalankan tugas peliputan.
Kejadian tersebut bermula ketika Ketua Umum DPP Partai Golkar itu hendak meninggalkan lokasi acara menuju lobi ballroom hotel. Sejumlah wartawan yang telah menunggu mencoba mendekat untuk melakukan wawancara singkat. Dalam situasi yang cukup padat, Bahlil yang dikawal beberapa ajudannya tetap berjalan sambil sesekali memberikan jawaban singkat kepada awak media.
Di tengah momen itu, Arfandi, wartawan media lokal haliyora.id, yang sedang merekam jalannya wawancara, tiba-tiba mengalami insiden tak terduga. Ia mengaku mendapat pukulan pada bagian rusuknya, yang membuatnya terkejut.
“Saya langsung bilang saya wartawan yang datang mau wawancara,” ujar Arfan saat menceritakan peristiwa tersebut.
Tindakan tersebut sontak memicu reaksi dari wartawan lain yang berada di lokasi. Mereka menyampaikan protes keras dan meminta agar ajudan tersebut tidak bertindak kasar, terlebih kepada jurnalis yang sedang menjalankan tugas.
Menanggapi insiden itu, panitia Musda, Arifin Djafar, menyampaikan permohonan maaf atas kejadian yang terjadi. Ia mengaku pihak panitia tidak menginginkan adanya insiden semacam itu dalam kegiatan resmi partai.
“Kami memohon maaf atas kejadian ini dan akan menyampaikan kepada Pak Menteri. Kami juga tidak menginginkan hal seperti ini terjadi, namun dalam situasi seperti tadi kadang ada gesekan,” ujarnya.
Arifin juga menjelaskan bahwa panitia sebenarnya telah menyiapkan sesi konferensi pers bersama Ketua Umum DPP Partai Golkar. Namun, rencana tersebut tidak terlaksana karena keterbatasan waktu.
Menurutnya, pihak Sespri dan Walpri Menteri ESDM menyampaikan bahwa Bahlil harus segera kembali ke Jakarta sehingga tidak memungkinkan untuk menggelar sesi wawancara resmi.
Ia pun berharap ke depan koordinasi antara panitia dan pihak pengamanan dapat lebih baik, sehingga kejadian serupa tidak terulang, terutama terhadap wartawan yang tengah menjalankan fungsi jurnalistik di lapangan. (Red)





