Awal 2026, Nilai Tukar Petani Maluku Utara Menurun

avatar Tidak diketahui
Petani Kelapa membelah buah kelapa untuk diolah menjadi kopra / dok : Antara

LENTERA MALUT – Memasuki awal tahun 2026, kondisi ekonomi petani di Provinsi Maluku Utara mulai menghadapi tantangan baru. Indikator kesejahteraan petani yang tercermin melalui Nilai Tukar Petani (NTP) tercatat mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku Utara mencatat NTP Januari 2026 berada di angka 101,86, turun 1,84 persen dari posisi Desember 2025. Data tersebut disampaikan oleh Supervisi Ahli Madya BPS Maluku Utara, Evida Karismawati, dalam siaran pers seperti dikutip pada Selasa (3/2/2026).

Penurunan NTP ini mencerminkan melemahnya daya tukar produk pertanian terhadap barang dan jasa yang dikonsumsi maupun digunakan sebagai biaya produksi oleh petani.

Secara konsep, Nilai Tukar Petani (NTP) merupakan perbandingan antara indeks harga yang diterima petani (It) dengan indeks harga yang dibayar petani (Ib). Indikator ini kerap digunakan untuk membaca tingkat kesejahteraan dan kemampuan ekonomi rumah tangga petani di wilayah perdesaan.

Pada Januari 2026, NTP Maluku Utara turun dari 103,77 pada Desember 2025 menjadi 101,86. Meski masih berada di atas angka 100—yang menandakan petani relatif masih mampu menutup kebutuhan hidup dan biaya produksinya—penurunan ini menjadi sinyal adanya tekanan harga di sektor pertanian.

Di sisi lain, Indeks Konsumsi Rumah Tangga Petani (IKRT) tercatat sebesar 129,00, naik 0,68 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan IKRT menunjukkan meningkatnya pengeluaran rumah tangga petani, baik untuk kebutuhan konsumsi maupun nonkonsumsi.

Sementara itu, Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) pada Januari 2026 tercatat sebesar 108,08, turun 1,35 persen dibandingkan Desember 2025 yang mencapai 109,55. Penurunan NTUP ini mengindikasikan bahwa keuntungan usaha pertanian mengalami penyusutan akibat kenaikan biaya produksi atau penurunan harga hasil pertanian.

Berdasarkan hasil pemantauan harga perdesaan di tujuh kabupaten di Provinsi Maluku Utara, penurunan NTP Januari 2026 terutama disumbang oleh tiga subsektor utama. Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat mengalami penurunan terdalam sebesar 2,30 persen, diikuti Subsektor Peternakan yang turun 1,02 persen, serta Subsektor Perikanan yang melemah 0,45 persen.

Di tengah tren penurunan tersebut, dua subsektor justru menunjukkan kinerja positif. Subsektor Tanaman Pangan mencatat kenaikan NTP sebesar 0,54 persen, sementara Subsektor Hortikultura naik 0,31 persen.

Kondisi ini menggambarkan dinamika ekonomi perdesaan yang masih beragam antar subsektor, sekaligus menjadi perhatian penting dalam menjaga stabilitas kesejahteraan petani di Maluku Utara ke depan. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *