LENTERA MALUT — Panggung Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Maluku Utara kembali menegaskan satu hal: dominasi lama belum benar-benar usai. Alien Mus kembali didapuk memimpin DPD I setelah mengantongi dukungan bulat dari 10 DPD II kabupaten/kota serta 6 organisasi sayap partai. Sebuah kemenangan yang nyaris tanpa riak, namun justru memunculkan pertanyaan: apakah ini tanda soliditas, atau cermin minimnya dinamika internal?
Musda yang digelar di Ballroom Gamalama Bella Hotel, Ternate, pada Minggu (12/4/2026) itu sejatinya diharapkan menjadi momentum konsolidasi. Ketua Umum DPP Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, dalam sambutannya menekankan pentingnya konsolidasi yang tidak sekadar struktural, tetapi juga fungsional—sebuah pesan yang, jika dibaca lebih dalam, menyiratkan kekhawatiran akan fragmentasi di tubuh partai.
“Tidak boleh lagi ada pecah-pecah. Siapapun yang terpilih harus mampu merangkul,” tegas Bahlil. Pernyataan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kemenangan politik tanpa rekonsiliasi hanya akan menyisakan residu konflik di kemudian hari.
Bagi Alien Mus, mandat ini bukan sekadar perpanjangan kekuasaan, melainkan ujian kepemimpinan. Ia dituntut membuktikan bahwa dukungan aklamasi bukan hasil kompromi elite semata, melainkan refleksi kepercayaan kader di akar rumput. Dalam pidatonya, Alien menegaskan komitmennya memperkuat kaderisasi, terutama dengan membuka ruang bagi generasi muda.
Ia mendorong partisipasi kalangan milenial sebagai energi baru partai. “Golkar harus menjadi rumah bagi anak muda yang punya semangat dan kepercayaan diri,” ujarnya, seraya menargetkan kemenangan pada pemilu legislatif serta penguasaan kursi-kursi eksekutif ke depan.
Namun, di balik optimisme tersebut, terselip realitas politik yang belum sepenuhnya terang. Soal arah dukungan pada pemilihan presiden, Alien memilih menahan sikap, meski memberi sinyal keberlanjutan dengan menyatakan masih bersama pemerintahan Prabowo–Gibran. Sikap ini menunjukkan kalkulasi politik yang hati-hati—menunggu momentum, sembari menjaga posisi tawar.
Lebih menarik lagi adalah dinamika internal yang sempat mengemuka, terutama terkait nama Anjas Taher, yang sebelumnya digadang-gadang akan maju sebagai penantang. Isu “deal politik” yang menyebut Anjas bakal mengisi posisi sekretaris DPD I pun beredar. Namun Alien merespons dingin spekulasi tersebut.
“Itu informasi kamu, bukan saya,” ujarnya singkat kepada wartawan—jawaban yang diplomatis, tetapi menyisakan ruang tafsir tentang negosiasi di balik layar.
Di sinilah ujian sebenarnya dimulai. Janji merangkul semua pihak, termasuk rival politik internal, bukan perkara retoris semata. Dalam tradisi Golkar, keseimbangan kekuatan internal sering kali menjadi kunci stabilitas—atau sebaliknya, sumber konflik laten.
Alien menyadari hal itu. Ia menegaskan akan menyusun struktur kepengurusan dengan mengedepankan figur berpengalaman yang memahami AD/ART partai. Sebuah langkah yang terkesan normatif, namun krusial dalam memastikan mesin politik berjalan efektif.
Pada akhirnya, kepemimpinan Alien Mus periode ini akan diukur bukan dari seberapa kuat ia bertahan di puncak, tetapi dari kemampuannya mengelola perbedaan dan menerjemahkan konsolidasi menjadi kerja politik nyata. Golkar Maluku Utara kini berada di persimpangan: melanjutkan pola lama dengan stabilitas semu, atau benar-benar bertransformasi menjadi kekuatan politik yang adaptif dan inklusif.
Waktu akan menjawab, apakah Musda kali ini menjadi titik balik—atau sekadar pengulangan dari cerita yang sama. (Red)





