Drainase Rusak, Warga Fitu Ternate Menanggung Harga Kelalaian

Unknown's avatar
Tangkapan layar video luapan drainase yang mengakibatkan banjir di Kelurahan Fitu Kota Ternate yang berada di depan pekuburan

LENTERA MALUT – Persoalan genangan air dan luapan drainase di depan area pemakaman Kelurahan Fitu, Kecamatan Ternate Selatan, kembali menjadi sorotan. Selain dikeluhkan warga, masalah ini kini juga mendapat perhatian serius dari DPRD Kota Ternate.

Anggota DPRD Kota Ternate, Ridwan AR, meninjau langsung lokasi saat turun reses bersama Hj. Naila Ibrahim, Senin (12/1/2026). Kunjungan itu berlangsung di tengah hujan deras, ketika air terlihat meluap hingga ke badan jalan dan masuk ke rumah-rumah warga.

“Begitu melintas dari arah Sasa ke Fitu, air sudah tergenang di jalan. Ini jelas membahayakan pengguna jalan dan merugikan warga,” ujar Ridwan politisi PAN ini.

Di lokasi, Ridwan bahkan melihat langsung warga yang sedang membersihkan rumahnya karena terdampak luapan air. Ia kemudian menghubungi Lurah Fitu untuk meminta penjelasan terkait penyebab dan penanganan yang telah dilakukan.

Ridwan menilai, meski saluran tersebut disebut berada dalam kewenangan Balai Kementerian Pekerjaan Umum, pemerintah daerah tetap memiliki tanggung jawab terhadap kondisi warganya.

“Kalau sudah berdampak ke masyarakat, kelurahan dan pemerintah kota tidak bisa lepas tangan. Harus ada tindakan nyata,” tegasnya.

Ia menyebut sedikitnya 20 rumah terdampak banjir di kawasan tersebut. Kondisi makin parah karena adanya penimbunan lahan di bagian belakang pemukiman yang membuat arah aliran air tidak lagi terkendali.

“Air akhirnya masuk ke rumah-rumah warga. Ini yang harus segera dicarikan solusi,” katanya.

Ridwan juga mendorong lurah bersama RT dan RW agar lebih aktif menggerakkan gotong royong membersihkan drainase, sebagai langkah awal sembari menunggu solusi jangka panjang dari pemerintah.

Sementara itu, Lurah Fitu, Hamid Salasa, menjelaskan bahwa persoalan banjir di wilayahnya bukan sekadar akibat drainase tersumbat, tetapi menyangkut sistem aliran air dari hulu ke hilir yang sudah tidak tertata dengan baik.

“Masalah ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan kerja bakti. Itu hanya solusi jangka pendek,” ujar Hamid sebelumnya kepada wartawan.

Ia memaparkan, air dari kawasan pemukiman di bagian atas membawa material lumpur dan sampah ke bawah. Di saat bersamaan, kemiringan drainase tidak ideal, sehingga aliran air menuju kali besar tidak berjalan lancar.

Selain itu, banyak jalur air di bagian bawah tertutup akibat penimbunan lahan milik warga, sehingga air kehilangan jalur alirnya. “Semua ini membuat air meluap ketika hujan deras,” jelasnya.

Hamid juga menyebut, pembukaan lahan kaplingan dan pemukiman baru di bagian hulu tidak diikuti dengan pembangunan sistem drainase yang memadai. Akibatnya, buangan air menyebar dan tidak terarah ke satu titik pembuangan.

Terkait solusi, ia menyampaikan bahwa perlu pembangunan saluran drainase besar dari hulu hingga hilir, sepanjang kurang lebih satu kilometer. Namun rencana tersebut terkendala pembebasan lahan karena jalurnya melintasi rumah dan tanah warga.

“Sudah pernah diusulkan, tapi karena harus membeli lahan warga, jadi terkendala,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan, lokasi jalan tersebut masuk dalam kategori jalan nasional sehingga kewenangan drainasenya berada di Balai Kementerian PU. Meski begitu, pihak kelurahan sudah berkoordinasi dan menunggu kajian dari pihak balai.

Di sisi lain, Hamid tetap mengimbau masyarakat agar ikut menjaga kebersihan dan tidak membuang sampah sembarangan, karena kondisi lingkungan turut memperparah luapan air. “Kesadaran warga juga sangat penting,” tutupnya. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *