LENTERA MALUT – Harapan empat pemuda asal Halmahera Selatan (Halsel) untuk meraih penghidupan layak di luar negeri berubah menjadi mimpi buruk. Berawal dari janji manis pekerjaan bergaji Rp12 juta per bulan di Thailand, mereka justru berakhir di Myanmar dan dipaksa bekerja sebagai penipu daring (scammer).
Empat korban tersebut yakni Feni Astari Dareno (23), Asriadi Musakir (24), Zether Maulana (22), dan Tantoni. Kasus ini terungkap setelah keluarga salah satu korban, Feni, melaporkan kejadian itu pada awal September 2025.
Menurut keterangan kakak korban, Feni berangkat setelah mendapat tawaran dari seseorang bernama Dindong, yang menjanjikan pekerjaan sebagai marketing di Thailand. Namun beberapa hari setelah keberangkatan, Feni berhasil menghubungi keluarga dan mengaku bahwa dirinya bukan berada di Thailand, melainkan di Myanmar.
“Adik saya bilang tidak tahu nama perusahaan tempat dia kerja, karena tidak ada papan nama maupun identitas resmi. Mereka diawasi ketat dan dipaksa jadi scammer,” ungkap sang kakak.
Dalam komunikasi terakhir, Feni juga mengaku dirinya bersama tiga rekannya kerap diancam akan disiksa atau dijual jika tidak mencapai target kerja yang ditentukan oleh pihak yang menahan mereka.
Kapolda Maluku Utara Irjen Pol Drs. Waris Agono, M.Si., membenarkan adanya laporan dugaan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) terhadap empat warga Halsel tersebut. Ia menyebut, kasus ini sudah dilimpahkan ke Direktorat TPPO Bareskrim Polri untuk ditangani lebih lanjut.
“Sudah dilaporkan ke Direktorat TPPO Bareskrim Polri,” ujar Irjen Waris Senin, (27/10/2025).
Waris menegaskan, pihaknya terus berkoordinasi dengan Bareskrim Polri guna menelusuri jaringan sindikat yang menjerat para korban. Ia menyebut kasus ini tergolong transnasional, sehingga membutuhkan kerja sama antarnegara.
Kapolda juga mengimbau masyarakat Maluku Utara agar lebih waspada terhadap tawaran pekerjaan bergaji besar di luar negeri yang tidak memiliki kejelasan dokumen dan legalitas.
“Lapangan kerja di Malut terbuka lebar. Jangan mudah tergiur tawaran gaji besar di negara orang yang belum pasti,” tegasnya.
Kasus ini menambah daftar panjang jebakan sindikat perdagangan orang yang mengincar warga Indonesia dengan iming-iming pekerjaan mewah di luar negeri. Sementara pihak keluarga korban kini terus berharap ada langkah konkret pemerintah untuk memulangkan keempat pemuda tersebut dengan selamat. (Red)





