Jatam Malut: Tragedi Sumatra Jadi Alarm Keras untuk Halmahera

Unknown's avatar
Gambaran peta izin usaha pertambangan yang tersebar di Provinsi Maluku Utara / Dok :akun instagram @jatam.malut

LENTERA MALUT — Ketika ribuan warga Sumatra masih berjuang memulihkan hidup pascabanjir bandang dan longsor, Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Maluku Utara mengingatkan bahwa isyarat bahaya itu sesungguhnya juga diarahkan ke Halmahera.

Bagi Jatam, bencana di Sumatra adalah peringatan alam yang tidak boleh diabaikan daerah yang kini tengah dikepung ekspansi industri ekstraktif. “Solidaritas untuk Sumatra berarti tindakan nyata bagi Halmahera,” tulis Jatam postingannya, dikutip Ahad, (7/12/2025).

Dalam unggahan di akun Instagram resminya, @jatam.malut menyebut bencana tersebut telah menghancurkan rumah warga, merenggut korban jiwa, memaksa ribuan orang mengungsi, dan berdampak pada lebih dari satu juta penduduk. “Kepada mereka, kita kirimkan doa dan solidaritas,” tulis Jatam Malut.

Namun solidaritas itu, menurut Jatam, juga harus menjadi cermin bagi Halmahera. Kerusakan ekologis yang memicu tragedi di Sumatra kini mulai tampak nyata di pulau ini, bahkan dengan ritme yang lebih cepat.

Mengacu pada data MODI Kementerian ESDM per September 2025, Maluku Utara memiliki 134 izin usaha pertambangan dengan total luas konsesi mencapai 672.481,48 hektare. Ekspansi nikel yang masif disebut sebagai pendorong utama pembukaan hutan dalam skala besar.

Banyak lereng di Halmahera dipotong hingga gundul, bukit-bukit diratakan, dan sungai-sungai mengalirkan lumpur merah ke laut. Ruang hidup masyarakat dan habitat satwa tergantikan oleh kawasan industri. “Yang tersisa hanyalah tanah yang melemah, ekosistem yang tercerai-berai, dan risiko yang mengintai setiap musim hujan tiba,” ujar Jatam.

Jatam menegaskan isu ini bukan sekadar soal teknis pembangunan, tetapi menyangkut keselamatan manusia dan keberlanjutan lingkungan. “Alam memiliki batas, dan jika dilanggar, balasannya tidak pernah lunak.”

Melalui tagar #selamatkanhalmahera, #jagamalukuutara, dan #tambangharustumbang, Jatam Malut mengajak publik untuk memperluas perhatian pada krisis ekologis serta mendorong tindakan nyata menjaga hutan, sungai, dan kehidupan — selagi masih ada yang bisa diselamatkan. (Red)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *