LENTERA MALUT – Dunia jurnalisme Indonesia tengah berada di persimpangan jalan. Di tengah gempuran digitalisasi, tekanan ekonomi, dan dominasi platform global, etika jurnalistik kian tergerus. Realitas itulah yang diangkat Janur M. Bagus dalam buku terbarunya berjudul Jurnalisme di Ujung Tanduk: Etika yang Tergerus dan Krisis di Balik Berita, yang diterbitkan oleh Deepublish Digital.
Buku ini lahir dari kegelisahan penulis melihat perubahan drastis lanskap media, terutama di daerah. Janur memotret bagaimana model bisnis media konvensional runtuh perlahan, pendapatan iklan merosot, redaksi menyusut, hingga jurnalis dipaksa bekerja serba cepat demi memenuhi tuntutan algoritma dan viralitas.
“Dulu, satu berita bisa diliput berhari-hari dan diverifikasi berlapis. Kini, seorang jurnalis dituntut menulis banyak berita dalam sehari, tanpa ruang refleksi,” tulis Janur dalam prakata bukunya.
Dalam buku ini, Janur tidak sekadar mengkritik praktik jurnalisme yang menyimpang, tetapi mengajak pembaca memahami akar persoalan. Menurutnya, banyak penyimpangan bukan semata persoalan moral individu jurnalis, melainkan lahir dari tekanan sistemik yang memaksa jurnalis berkompromi dengan idealisme.
Dominasi platform digital seperti Google, Facebook, dan TikTok juga disorot sebagai aktor penting yang kini bukan hanya menyebarkan informasi, tetapi menentukan apa yang layak dibaca, kapan, dan oleh siapa. Akibatnya, media kerap terjebak pada logika klik dan viral, sementara etika menjadi “kemewahan” di ruang redaksi.
Keistimewaan buku ini terletak pada sudut pandangnya. Janur menulis dari daerah, dari pinggiran, dari realitas jurnalisme yang jarang disuarakan. Ia secara jujur memaparkan praktik-praktik kelam di balik berita—mulai dari pesanan pemberitaan, budaya amplop, hingga dilema antara menjaga integritas dan sekadar bertahan hidup.
Meski demikian, Jurnalisme di Ujung Tanduk bukan buku yang menghakimi. Janur justru membuka ruang dialog, mengajak pembaca melihat krisis media sebagai momentum refleksi dan titik balik. Ia menegaskan bahwa jurnalisme masa depan harus mampu menyeimbangkan kecepatan dengan ketelitian, viralitas dengan keadilan, serta algoritma dengan nurani.
“Buku ini adalah catatan kegelisahan sekaligus ajakan agar jurnalisme tidak menyerah pada situasi yang kian suram,” tulisnya.
Janur juga menyampaikan optimismenya bahwa di tengah krisis, masih ada jurnalis jujur, media yang bertahan, dan komunitas yang peduli pada informasi sehat. Buku ini ditujukan tidak hanya bagi praktisi media dan mahasiswa komunikasi, tetapi juga bagi publik luas yang ingin memahami dunia di balik produksi berita.
Diterbitkan oleh Deepublish Digital, Jurnalisme di Ujung Tanduk diharapkan menjadi bahan renungan bersama tentang masa depan pers dan pentingnya menjaga etika di tengah perubahan zaman. (Red)





