LENTERA MALUT – Waktu itu, rumah sederhananya di Ciganjur, Jakarta Selatan nyaris tak pernah benar-benar sepi. Sejak pagi hingga larut malam, bahkan hingga menjelang subuh, tamu datang silih berganti. Ada yang sekadar bersilaturahmi, ada yang ingin berdiskusi serius, ada pula yang hanya ingin berbagi cerita. Tak semuanya warga Nahdlatul Ulama (NU), tetapi sebagian besar datang membawa satu topik yang sama: NU dan segala dinamikanya.
Di hadapan tamu-tamu itulah Abdurrahman Wahid—Gus Dur—sering melontarkan humor khasnya. Dengan senyum santai dan tawa kecil, ia pernah membagi tamu NU ke dalam tiga “kategori”. Bukan untuk menghakimi, melainkan untuk mengajak tertawa dan merenung bersama.
Menurut Gus Dur, tamu NU yang datang antara pukul tujuh pagi hingga sembilan malam, lalu berbincang panjang lebar soal NU, adalah orang NU yang memiliki komitmen dan fanatisme yang wajar. “Itu orang NU yang serius,” katanya suatu ketika. Fanatik, tapi masih dalam batas kewajaran.
Jenis kedua, lanjut Gus Dur, adalah mereka yang tetap mengetuk pintu rumahnya ketika malam makin larut—sekitar pukul sembilan malam hingga lewat tengah malam—dan masih membicarakan NU. “Kalau yang ini namanya orang gila NU,” ujarnya sambil tersenyum.
Namun Gus Dur belum selesai. Dengan tawa yang makin lepas, ia menambahkan kategori ketiga. “Kalau masih juga datang jam dua dini hari sampai jam enam pagi dan tetap bicara NU, itu namanya orang NU gila,” katanya terkekeh. Guyonan sederhana, tapi mengena, khas Gus Dur.
Kisah ini termuat dalam buku Tertawa Bersama Gus Dur: Humornya Kiai Indonesia karya Muhamad Zikra, terbitan Mizan. Dalam pengantar buku tersebut, Gus Dur menjelaskan bahwa humor baginya bukan sekadar alat bercanda, melainkan bagian dari tradisi pesantren. “Di pesantren, humor itu kegiatan sehari-hari,” katanya. Lelucon menjadi cara sehat untuk sejenak melupakan beratnya hidup.
Sebagai cucu pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari, Gus Dur tumbuh dalam lingkungan pesantren yang sederhana dan egaliter. Para santri tidur bersama, makan bersama, menanak nasi hingga mencuci pakaian pun dilakukan bareng. Dalam kesederhanaan itulah humor tumbuh subur—menjadi penawar lelah dan perekat kebersamaan, tanpa menyakiti siapa pun.
Tak heran jika Gus Dur dikenal sebagai kiai yang berbeda. Jika kiai lain dinanti khutbahnya, Gus Dur justru ditunggu guyonannya. Setiap kali ia mulai berbicara, orang-orang segera duduk melingkar, menanti cerita-cerita jenaka yang kerap berujung pada refleksi mendalam.
Dari kitab-kitab klasik hingga kisah para sufi humoris seperti Nasruddin Hoja dan Abu Nawas, Gus Dur belajar bahwa humor bukan tanda ketidakseriusan. Justru dari tawa, pikiran menjadi jernih dan hati lebih lapang. Di tangan Gus Dur, humor bukan sekadar hiburan—melainkan jalan kearifan. (Red)





