Kurikulum Bencana Fokus Pada Pemulihan Trauma

Unknown's avatar
Proses belajar anak-anak korban bencana alam di Pulau Sumatera / Dok : Kemendikdasmen

LENTERA MALUT – Di tengah bayang-bayang krisis dan bencana yang melanda sejumlah wilayah di pulau Sumatera dan lainnya, harapan pendidikan bagi anak-anak Indonesia dipastikan tidak akan padam.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) resmi menerapkan Kurikulum Penanggulangan Dampak Bencana sebagai “pedoman sakti” agar kegiatan belajar tetap menyala meski dalam kondisi darurat.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa bencana bukan alasan bagi pendidikan untuk berhenti. Baginya, setiap anak berhak atas akses ilmu dalam situasi sesulit apa pun.

“Pendidikan tidak boleh terhenti. Dengan kebijakan yang adaptif sesuai kondisi lapangan, kami memastikan setiap anak tetap punya kesempatan belajar meskipun berada dalam keterbatasan,” tegas Abdul Mu’ti di Jakarta seperti dikutip dari kemendikdasmen.go.id Kamis, (1/1/2026).

Bukan Kurikulum Biasa: Fokus pada Literasi dan Mental Health

Kurikulum ini didesain sangat fleksibel. Alih-alih mengejar nilai akademik semata, fokus utama pada fase awal adalah keselamatan dan dukungan psikososial (mental health). Para siswa diajak pulih dari trauma sebelum masuk ke materi literasi dan numerasi dasar.

Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP), Toni Toharudin, membedah strategi ini dalam tiga fase krusial:

  • Fase 0-3 Bulan (Tanggap Darurat): Fokus pada kompetensi minimum esensial. Asesmen tidak lagi bicara soal skor ujian, melainkan kehadiran, keamanan, dan kenyamanan murid.
  • Fase 3-12 Bulan (Pemulihan Awal): Mulai diterapkan kurikulum adaptif berbasis krisis. Di sini, program remedial intensif dilakukan untuk mengejar ketertinggalan, sembari memantau perkembangan emosional siswa.
  • Fase Menengah-Panjang (1-3 Tahun): Pendidikan kebencanaan diintegrasikan secara permanen. Tujuannya satu: membentuk ekosistem pendidikan yang “tahan banting” terhadap krisis di masa depan.

Integrasi Permanen: Sekolah Jadi Benteng Mitigasi

Tak hanya soal cara mengajar, BSKAP juga telah menyusun Panduan Implementasi Pendidikan Kebencanaan. Panduan ini menjadi peta jalan bagi sekolah untuk tetap waspada, baik sebelum, saat, maupun sesudah bencana terjadi.

“Peta jalan ini memastikan pemulihan pendidikan berlangsung berkelanjutan. Kita tidak hanya bicara jangka pendek, tapi memperkuat ketahanan sekolah di masa depan,” ujar Toni optimis. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *