Pekerja Bongkar Dugaan Pencemaran Smelter di Obi

Unknown's avatar
Aktifitas pertambangan PT. Wanatiara Persada / Dok : kabarmasa.com

LENTERA MALUT — Industri pengolahan nikel di Obi, Kabupaten Halmahera Selatan kembali menuai sorotan publik. PT Wanatiara Persada Site Haul Sagu yang bergerak dalam pengolahan bijih nikel menjadi feronikel, kini diduga mencemari lingkungan sekitar. Dugaan kerusakan ini disebut semakin meluas dan mulai memicu keluhan dari masyarakat maupun pihak internal perusahaan.

Padahal, sebagai perusahaan yang mengusung konsep value added creating, proses produksi seharusnya berjalan efisien tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan.

Smelter berteknologi RKEF (Rotary Kiln–Electric Furnace), yang dikenal sebagai teknologi modern dan ramah lingkungan, justru menjadi perhatian publik dalam beberapa bulan terakhir. Aktivitas pengolahan di lokasi tersebut memberikan dampak buruk bagi kawasan darat maupun laut di sekitar Haul Sagu.

Keluhan masyarakat serta pekerja lokal memperkuat dugaan adanya pencemaran yang terjadi selama proses produksi berlangsung.

Seorang pekerja lokal yang telah lebih dari tujuh tahun bekerja di perusahaan itu mengaku kondisi internal perusahaan semakin tidak terarah. Ia menyebut penanganan limbah kerap diabaikan sehingga residu proses pengolahan terbuang sembarangan.

“Bukan hanya manajemen yang kacau, tapi limbah dari smelter sering dibiarkan begitu saja. Ada yang masuk ke darat, ada juga yang mengalir ke laut. Kami sudah lama melihat ini, tapi tidak ada pembenahan berarti,” ungkapnya seperti mengutip investigasi.wartaglobal.id Kamis, (4/12/2025)

Informasi lain juga menyebutkan jumlah tenaga kerja di perusahaan menurun drastis. Jika sebelumnya PT Wanatiara Persada mempekerjakan sekitar 2.000 orang, kini jumlah itu disebut menyusut hingga tersisa sekitar 1.000 pekerja.

Penurunan tersebut diduga terjadi akibat sistem manajemen yang dinilai semakin tidak stabil hingga membuat banyak pekerja memilih keluar ataupun terdampak efisiensi. “Banyak yang keluar karena tidak tahan dengan kondisi kerja dan manajemen yang tidak jelas,” ujar sumber lainnya.

Dugaan pencemaran di area laut turut menjadi perhatian warga pesisir. Mereka mengeluhkan perubahan warna air laut serta berkurangnya hasil tangkapan nelayan. Meski belum ada pernyataan resmi dari instansi terkait, masyarakat berharap pemerintah segera melakukan evaluasi serta investigasi menyeluruh sebelum dampak lingkungan semakin berat.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak manajemen PT Wanatiara Persada Site Haul Sagu belum memberikan tanggapan resmi atas berbagai dugaan yang dilayangkan.

Kasus ini menambah daftar panjang isu lingkungan yang terjadi di sekitar industri tambang dan smelter di Halmahera Selatan. Dengan dampak yang langsung dirasakan masyarakat, persoalan ini menjadi penting untuk mendapat perhatian dan penanganan serius. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *