LENTERA MALUT — Tingkat pengangguran di wilayah perkotaan Maluku Utara tercatat jauh lebih tinggi dibandingkan perdesaan. Berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2025, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di perkotaan mencapai 6,12 persen, sementara di perdesaan hanya 3,85 persen.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku Utara, Simon Sapary, dalam keterangan pers yang dikutip Rabu (12/11/2025), menyebutkan bahwa kedua wilayah sama-sama mengalami peningkatan dibandingkan Agustus 2024 — masing-masing naik 0,91 persen poin di perkotaan dan 0,32 persen poin di perdesaan.
“TPT menggambarkan jumlah tenaga kerja yang belum terserap pasar kerja dan menunjukkan masih adanya potensi tenaga kerja yang belum termanfaatkan,” ujar Simon.
Menurut BPS, pengangguran adalah penduduk berusia 15 tahun ke atas yang tidak bekerja namun sedang mencari pekerjaan; mempersiapkan usaha baru; sudah diterima bekerja tetapi belum mulai bekerja; atau merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan (putus asa).
Tingkat Pengangguran Naik Jadi 4,55 Persen
Secara keseluruhan, TPT Maluku Utara pada Agustus 2025 tercatat sebesar 4,55 persen. Angka ini meningkat dibandingkan Agustus 2024 yang sebesar 4,03 persen, dan juga lebih tinggi dari Agustus 2023 yang sebesar 4,31 persen.
Artinya, dari setiap 100 orang angkatan kerja, terdapat sekitar empat hingga lima orang yang masih menganggur.
Perempuan Masih Lebih Banyak Menganggur
Dari sisi jenis kelamin, tingkat pengangguran perempuan masih lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Pada Agustus 2025, TPT perempuan mencapai 5,15 persen, sementara laki-laki sebesar 4,19 persen. Keduanya mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya, masing-masing naik 0,95 persen poin untuk perempuan dan 0,27 persen poin untuk laki-laki.
SMK Masih Sumbang Pengangguran Tertinggi
Jika dilihat dari tingkat pendidikan, pola pengangguran di Maluku Utara belum banyak berubah. Tamatan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih menjadi kelompok dengan TPT tertinggi, yakni 9,33 persen.
Sebaliknya, tingkat pengangguran terendah terdapat pada pendidikan SD ke bawah, yaitu hanya 2,17 persen.
Kondisi ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan, belum tentu semakin mudah mendapatkan pekerjaan, terutama jika keahlian yang dimiliki tidak sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.(Red)





