LENTERA MALUT – Menjelang Hari Raya Idul Fitri yang seharusnya menjadi masa panen penghasilan, para sopir angkutan kota di Ternate yang tergabung dalam ISSAP justru merana. Kebijakan Pemerintah Kota yang melarang pedagang musiman berjualan di area terminal dituding menjadi penyebab utama anjloknya jumlah penumpang dan matinya urat nadi ekonomi di titik transportasi utama tersebut.
Para sopir angkot merasa aspirasi mereka terabaikan oleh Wali Kota, Sekda, dan DPRD Kota Ternate. Mereka menilai kebijakan penataan fungsi terminal dilakukan tanpa mempertimbangkan dampak ekonomi bagi rakyat kecil. Terminal yang biasanya ramai oleh aktivitas jual-beli menjelang lebaran, kini berubah sunyi.
“Terminal bukan sekadar tempat mobil berhenti, tapi ruang hidup. Kalau tidak ada pedagang musiman, warga tidak datang belanja. Kalau warga tidak datang, kami tidak punya penumpang,” ungkap perwakilan ISSAP dalam pernyataan tertulisnya seperti dikutip Kamis, (12/3/2026)
Para sopir juga menyoroti ketimpangan fasilitas. Di saat pejabat duduk di kantor ber-AC dengan gaji dan tunjangan tetap, para sopir harus berjuang di bawah terik matahari demi mencari ongkos untuk membayar zakat dan membelikan baju lebaran anak-anak mereka.
Kritik tajam juga diarahkan pada penegakan aturan yang dianggap “tebang pilih”. ISSAP mempertanyakan mengapa penataan fungsi hanya diperketat di terminal, sementara area lain seperti Masjid Raya, Salero, dan Kotabaru dianggap tidak diperlakukan dengan standar hukum yang sama.
Upaya pemerintah memindahkan pedagang ke lokasi seperti Benteng Oranje atau Kampung Ramadhan juga dinilai gagal total karena sepi pembeli, yang berujung pada hilangnya potensi pendapatan bagi angkutan umum yang menggantungkan hidup pada pergerakan masyarakat di terminal.
Melalui pernyataan ini, ISSAP menuntut kebijakan yang lebih manusiawi dan adil. Mereka tidak menolak penataan kota, namun meminta solusi nyata yang tidak mematikan mata pencaharian mereka di musim puncak menjelang lebaran ini. (Red)





