LENTERA MALUT — Ada perjalanan yang terasa seperti pulang. Bagi Sabaria Umahuk, SMA Negeri 1 Kota Ternate bukan sekadar tempat ia bekerja. Sekolah itu adalah almamater tempat ia pernah duduk sebagai siswa, menimba ilmu, dan membangun mimpi.
Kini, hampir empat dekade setelah lulus, Sabaria kembali ke sekolah tersebut dengan peran yang jauh berbeda. Ia dipercaya memimpin SMA Negeri 1 Kota Ternate dengan satu pekerjaan besar: mengembalikan “Tradisi Juara” yang pernah melekat kuat pada sekolah itu.
Saat ditemui wartawan di meja kerjanya, Selasa (25/8/2026), Sabaria bercerita tentang perjalanan panjang yang akhirnya membawanya kembali ke sekolah tempat ia menuntut ilmu.
“Saya alumni SMA Negeri 1 Ternate angkatan 1988. Setelah itu saya melanjutkan kuliah di Universitas Pattimura, mengambil Pendidikan Bahasa Inggris,” ujar Sabaria.
Dari Ambon, perjalanan pendidikannya berlanjut ke Jakarta. Pada 2004 hingga 2006, ia mendapat kesempatan menempuh pendidikan pascasarjana di Universitas Indonesia melalui beasiswa dari Kementerian.
Namun, Sabaria tidak memilih berhenti di dunia akademik. Ia kembali ke daerah dan memulai pengabdian sebagai guru di SMA Negeri 2 Kota Ternate pada 1998.
Kariernya berkembang bersama sejumlah prestasi. Pada 2003, ia meraih peringkat pertama nilai terbaik TOEIC se-Maluku Utara. Lima tahun kemudian, ia mendapat kesempatan mengikuti teacher training dan short course di Brisbane, Australia.
“Saya melihat setiap kesempatan itu sebagai bagian dari proses belajar. Guru juga harus terus belajar, bukan hanya siswa,” katanya.
Pada November 2008, Sabaria pindah ke SMA Negeri 1 Ternate. Saat itu, sekolah membutuhkan guru Bahasa Inggris senior untuk memperkuat program Rintisan Sekolah Berstandar Internasional atau RSBI.
Pengabdiannya sebagai guru terus menghasilkan prestasi. Pada 2017, Sabaria meraih juara pertama Guru Berprestasi tingkat Provinsi Maluku Utara dan mewakili provinsi tersebut dalam kompetisi tingkat nasional di Jakarta.
Setahun kemudian, ia kembali memperoleh kesempatan menapaki panggung internasional. Setelah melalui proses seleksi CV dan esai selama sekitar satu tahun, Sabaria terpilih menjadi wakil Indonesia dalam program The Study of United States Institution atau SUSI.
Dalam program tersebut, ia bersama peserta dari 19 negara mengikuti kegiatan edukator di Amerika Serikat. Ia menghabiskan tiga minggu di Washington, satu minggu di Chicago, kemudian kembali ke Washington selama satu minggu.
“Seleksinya tidak sebentar. Kami harus melalui proses yang cukup panjang. Bagi saya, itu pengalaman yang sangat berharga karena saya bisa belajar dari pendidik dan peserta dari berbagai negara,” tutur Sabaria.
Pengalaman internasional itu kemudian ia bawa ke ruang kelas dan kegiatan pembinaan siswa.
Salah satu yang menonjol adalah keberhasilannya membina tim debat Bahasa Inggris SMA Negeri 1 Ternate. Tim tersebut menjadi langganan juara tingkat nasional dan mendapat kesempatan mengikuti kegiatan internasional di Malaysia serta Jepang.
“Kalau anak-anak punya kemampuan, tugas kita sebagai guru adalah membuka jalan. Jangan sampai kemampuan mereka berhenti hanya karena tidak ada yang mendampingi,” ujarnya.
Banyak siswa yang pernah dibinanya kemudian melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi ternama. Sebagian bahkan berhasil memperoleh beasiswa penuh.
Ia menyebut beberapa nama yang menurutnya menjadi bukti bahwa pembinaan yang konsisten dapat mengubah masa depan seorang siswa.
Ada Alif Faid yang mengikuti program pertukaran pelajar ke Amerika Serikat selama satu tahun dan kemudian melanjutkan pendidikan di Universitas Indonesia. Ada pula Prita yang mengikuti program serupa ke Amerika Serikat dan menyelesaikan pendidikan di Yogyakarta.
Kisah Walian Somole menjadi salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi Sabaria. Walian berhasil memperoleh Beasiswa Indonesia Maju dan melanjutkan pendidikan bidang pertambangan di sebuah Universitas di Toronto, Kanada.
Sabaria ikut mendampingi proses seleksi Walian sebagai guru konselor hingga akhirnya siswa tersebut menyelesaikan pendidikannya di Kanada tahun ini.
“Ketika melihat anak-anak kita bisa sampai ke luar negeri dan menyelesaikan pendidikan mereka, itu kebahagiaan tersendiri bagi seorang guru. Kita merasa bahwa pendampingan yang kita lakukan tidak sia-sia,” katanya.
Sebelum dipercaya memimpin SMA Negeri 1 Ternate, Sabaria terlebih dahulu menjabat sebagai Plt dan kemudian Kepala SMA Negeri 10 Kota Ternate selama sekitar empat tahun, hingga April 2026.
Ketika mendapat mandat dari Pemerintah Provinsi Maluku Utara untuk memimpin SMA Negeri 1 Ternate, ia memahami bahwa tugas tersebut bukan pekerjaan ringan.
Sekolah yang pernah membentuk dirinya itu membutuhkan dorongan untuk kembali menemukan kekuatan dan tradisi prestasinya.
“Saya mendapat mandat untuk mengembalikan tradisi juara di SMA Negeri 1 Ternate. Saya melihat dalam sekitar lima tahun terakhir tradisi itu mengalami penurunan, sehingga ini menjadi tanggung jawab yang harus kita benahi bersama,” ungkapnya.
Sabaria tidak ingin menjadikan “Tradisi Juara” hanya sebagai slogan. Ia mulai membangun sistem pembinaan yang lebih terarah melalui Tim Manajemen Talenta.
Tim tersebut dikoordinasikan oleh guru Bimbingan Konseling untuk menemukan potensi siswa sejak awal. Bakat siswa kemudian diarahkan ke berbagai bidang, mulai dari sains, akademik, seni hingga olahraga.
“Kita tidak boleh menunggu anak berprestasi baru kemudian kita bina. Justru sejak awal kita harus mencari siapa yang punya potensi, apa bakatnya, lalu kita dampingi,” tegasnya.
Menurut dia, setiap anak memiliki keunggulan yang berbeda. Karena itu, sekolah tidak boleh hanya fokus pada satu jenis prestasi.
“Anak-anak kita tidak semuanya harus menjadi juara di bidang akademik. Ada yang kuat di olahraga, ada yang punya kemampuan seni, ada yang bagus di sains. Semua potensi itu harus kita berikan ruang,” jelasnya.
Untuk mendukung pembinaan tersebut, Sabaria juga mendorong penggunaan anggaran sekolah secara maksimal.
Ia menyebut dana BOSP, BOSDA dan BOS Kinerja harus benar-benar memberikan manfaat bagi siswa, terutama untuk mendukung kebutuhan pembinaan dan kompetisi.
“Anggaran yang kita punya harus kembali kepada kebutuhan anak-anak. Kalau mereka membutuhkan peralatan seni, kita fasilitasi. Kalau mereka mengikuti lomba, kita dukung sesuai kemampuan anggaran sekolah,” katanya.
Di balik berbagai program tersebut, Sabaria memiliki pesan khusus bagi siswa baru SMA Negeri 1 Ternate.
Ia ingin setiap siswa memiliki alasan yang jelas ketika memilih sekolah tersebut.
“Jangan masuk SMA Negeri 1 hanya karena ikut teman. Ketika masuk di sini, harus punya target. Mau menjadi apa, mau berprestasi di bidang apa, itu harus mulai dipikirkan,” katanya.
Menurut Sabaria, sekolah hanya dapat menjadi tempat berkembang apabila siswa sendiri memiliki kemauan untuk berjuang.
“Sekolah akan membuka jalan dan memberikan fasilitas. Tetapi anak-anak juga harus punya kemauan. Prestasi tidak datang begitu saja,” tambahnya.
Pesan itu seolah menjadi refleksi dari perjalanan hidupnya sendiri.
Sabaria pernah menjadi siswa di SMA Negeri 1 Ternate. Ia kemudian tumbuh sebagai guru, meraih berbagai penghargaan, mengikuti program pendidikan di luar negeri, membina siswa hingga ke panggung internasional, dan akhirnya kembali sebagai kepala sekolah.
Kini, ia tidak hanya membawa pengalaman panjangnya sebagai pendidik. Ia juga membawa harapan agar almamaternya kembali melahirkan generasi berprestasi.
“Saya ingin SMA Negeri 1 kembali menjadi sekolah yang punya tradisi juara. Bukan hanya satu atau dua bidang, tetapi di berbagai bidang. Kita ingin anak-anak kita punya prestasi sampai tingkat nasional bahkan internasional,” pungkasnya. (Red)

Komentar