LENTERA MALUT — Dugaan penembakan yang melibatkan oknum anggota Brimob bersama petugas keamanan (security) PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) terhadap seorang warga di Weda, Kabupaten Halmahera Tengah (Halteng), menuai sorotan keluarga korban.
Mereka mendesak Kapolda Maluku Utara segera turun tangan dan mengusut tuntas kasus tersebut.
Korban bernama Stenly R. Mamala mengalami luka tembak saat mengendarai mobil bersama istri dan anaknya yang masih berusia empat tahun. Menurut keterangan keluarga, sejumlah kendaraan mengejar mobil Stenly sebelum seseorang melepaskan tembakan ke arah kendaraan tersebut.
Peristiwa itu tidak hanya melukai Stenly, tetapi juga mengancam keselamatan istri dan anaknya yang berada di dalam mobil. Keluarga menilai aparat harus mengungkap secara terang siapa yang melepaskan tembakan, apa alasan pengejaran, dan bagaimana petugas menangani peristiwa tersebut.
Kasus ini diduga berkaitan dengan penanganan perkara pencurian barang milik perusahaan di kawasan PT IWIP, Kabupaten Halmahera Tengah. Aparat kepolisian sebelumnya mengamankan enam karyawan IWIP yang diduga terlibat dalam perkara tersebut. Keluarga menyebut keenam karyawan itu telah menjalani penahanan selama kurang lebih dua bulan dan mempertanyakan perkembangan proses hukum yang menjerat mereka.
Keenam karyawan tersebut yakni Firdat, Arul, Larianto, Rahmat, Hamat, dan Stenly R. Mamala.
Keluarga mengaku telah melaporkan dugaan penembakan itu kepada Propam Polda Maluku Utara pada Senin (5/10/2026). Namun, hingga Selasa (6/10/2026), mereka mengaku belum menerima informasi terbaru mengenai tindak lanjut laporan tersebut.
“Propam sebelumnya minta mediasi, kami sudah setuju. Tapi sampai sekarang belum ada informasi selanjutnya. Kami lihat proses ini diulur-ulur dan terkesan memperlambat penyelidikan,” ungkap pihak keluarga.
Selain dugaan penembakan, keluarga juga meminta penyidik mengusut dugaan perampasan telepon genggam milik korban. Mereka mendesak aparat memeriksa seluruh pihak yang diduga terlibat dan mengungkap setiap rangkaian peristiwa secara menyeluruh.
Mobil Dikejar di Kawasan Hutan Weda
Keluarga menjelaskan bahwa Stenly sedang menuju Tobelo untuk mengurus keperluan keluarga ketika insiden itu terjadi. Ia mengendarai mobil bersama istri dan anaknya. Menurut keterangan keluarga, Stenly mengaku tidak mengetahui bahwa ada pihak yang sedang mencarinya.
Sebelum melanjutkan perjalanan, Stenly sempat menghentikan mobilnya di Pos Payahe untuk menjalani pemeriksaan oleh petugas. Setelah petugas menyelesaikan pemeriksaan, ia kembali melanjutkan perjalanan.
Namun, sekitar 10 hingga 20 menit setelah meninggalkan pos tersebut, sejumlah kendaraan diduga mengejar mobil Stenly di kawasan hutan Weda. “10 sampai 20 menit setelah dari Pos Payahe, baru terjadi pengejaran,” kata pihak keluarga.
Menurut keluarga, para pengejar menggunakan kendaraan jenis light vehicle (LV) milik perusahaan. Stenly kemudian mempercepat laju mobil karena khawatir terhadap keselamatan istri dan anaknya.
Keluarga menyebut kendaraan pengejar menabrak mobil Stenly dari belakang sebanyak tiga kali. Tak lama kemudian, seseorang diduga melepaskan tembakan ke arah mobil korban.
Benturan berulang membuat mobil Stenly oleng, menabrak tanah, lalu berhenti. Setelah itu, sejumlah orang turun dari kendaraan pengejar dan diduga mengarahkan senjata kepada Stenly beserta istrinya.
Keluarga meminta aparat menyelidiki tindakan pengejaran tersebut, termasuk dugaan penggunaan senjata api dan tindakan yang membahayakan keselamatan penumpang mobil.
Tembakan Kedua Melukai Tangan Korban
Dalam situasi tersebut, Stenly berusaha memutar balik mobil untuk menuju Polres Halmahera Tengah dan meminta perlindungan. Namun, menurut penuturan keluarga, seseorang kembali melepaskan tembakan yang mengenai tangan korban.
Peluru tersebut juga menembus kaca depan mobil, tepat di bagian yang berada di hadapan tempat duduk istri Stenly. Keluarga menyebut kaca kendaraan kemudian retak dan pecah ketika istri korban menyentuhnya.
Istri Stenly mengaku tembakan itu nyaris mengenai kepala suaminya. “Kalau Stenly tidak sempat mundurkan mobil, tembakan itu kena kepala,” ungkap istri korban.
Setelah mengalami luka tembak dan kehilangan banyak darah, Stenly bersama istri dan anaknya mencari perlindungan di kebun milik warga. Dalam kondisi terluka, ia sempat menghubungi kerabat untuk meminta bantuan. Warga kemudian membantu mengevakuasi Stenly ke Polres Halmahera Tengah.
Keluarga berharap aparat segera mengumpulkan keterangan para saksi, memeriksa penggunaan senjata api dalam insiden tersebut, dan mengamankan bukti untuk mengungkap pihak yang bertanggung jawab.
Keluarga Soroti Kondisi Mobil dan Dugaan Penghilangan Bukti
Selain mempertanyakan tindakan para pengejar, keluarga juga menyoroti kondisi mobil Stenly setelah kejadian. Mereka mengaku menemukan kendaraan itu dalam keadaan rusak dengan bagian interior yang tampak seperti telah dibongkar.
Kondisi tersebut memunculkan dugaan di pihak keluarga bahwa seseorang mungkin telah mencari sisa peluru atau barang bukti lain di dalam mobil. Namun, keluarga belum membuktikan dugaan tersebut. Karena itu, mereka meminta aparat memeriksa kendaraan secara menyeluruh untuk memastikan penyebab kerusakan dan mengetahui apakah ada barang bukti yang hilang atau berpindah.
Keluarga juga mengungkapkan bahwa sejumlah anggota mendatangi mereka setelah mereka mengunggah informasi mengenai kasus tersebut di media sosial. Menurut keluarga, anggota yang datang meminta mereka menghapus unggahan itu. Namun, keluarga menolak permintaan tersebut.
Dalam pertemuan itu, menurut keterangan keluarga, salah seorang anggota yang hadir mengakui bahwa penembakan tersebut merupakan sebuah kesalahan. Aparat perlu mengklarifikasi pernyataan itu melalui pemeriksaan resmi agar penyidik dapat memastikan konteks dan fakta yang sebenarnya.
Di tengah persoalan tersebut, keluarga juga menyebut telah mengajukan permohonan penangguhan penahanan terhadap Stenly. Namun, hingga berita ini disusun, mereka mengaku belum menerima persetujuan atas permohonan tersebut.
Keluarga berharap aparat memberikan penjelasan mengenai status hukum Stenly sekaligus memastikan penanganan perkara berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.
Desak Kapolda Malut Turun Tangan
Keluarga mendesak Kapolda Maluku Utara dan Propam Polda Maluku Utara segera menindaklanjuti laporan dugaan penembakan tersebut. Mereka meminta aparat memeriksa semua pihak yang diduga terlibat, mengamankan barang bukti, serta mengungkap kronologi kejadian berdasarkan keterangan saksi dan hasil pemeriksaan.
Mereka juga menuntut proses hukum yang transparan dan adil, terutama karena insiden tersebut melibatkan dugaan penggunaan senjata api yang membahayakan warga sipil, termasuk seorang anak berusia empat tahun.
“Kami hanya ingin persoalan ini diproses sesuai aturan. Jangan sampai korban yang sudah mengalami luka akibat tembakan justru semakin menderita,” tegas pihak keluarga.
Keluarga menilai aparat perlu menjawab sejumlah pertanyaan penting, mulai dari alasan pengejaran, identitas pihak yang melepaskan tembakan, dugaan perampasan telepon genggam, hingga kondisi mobil korban setelah insiden. Mereka berharap penyelidikan yang menyeluruh dapat mengungkap fakta, menetapkan tanggung jawab sesuai bukti, dan memberikan kepastian hukum kepada semua pihak.
Hingga berita ini diterbitkan, redaksi belum memperoleh keterangan resmi dari Polres Halmahera Tengah, Propam Polda Maluku Utara, pihak Brimob, maupun manajemen PT IWIP mengenai dugaan penembakan tersebut. Redaksi membuka ruang bagi seluruh pihak terkait untuk memberikan klarifikasi dan menyampaikan keterangan resmi demi menjaga keberimbangan pemberitaan. (Red)

Komentar