Ekspor Malut Tembus Rp66 Triliun, Tiongkok Jadi Pasar Utama

avatar Tidak diketahui
Kapal Armada Permata mengangkut peti kemas melintasi perairan Ternate, Maluku Utara, Jumat (22/11/2024). Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku Utara mencatat nilai impor Maluku Utara pada Oktober 2024 sebesar USD 449,93 juta atau sekitar Rp7,1 triliun, naik sebesar 10,54 persen dibandingkan dengan September 2024 senilai USD 407,03 juta atau sekitar Rp6,4 triliun yang berasal dari beberapa negara, yakni Tiongkok, Filipina, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Australia, India, Korea Selatan, Vietnam, Jepang, Singapura, dan Malaysia. ANTARA FOTO/Andri Saputra/Spt.

LENTERA MALUT — Kinerja ekspor Provinsi Maluku Utara terus menunjukkan tren impresif. Sepanjang Januari hingga Maret 2026, nilai ekspor tercatat mencapai US$3,826 miliar atau setara Rp66,67 triliun (kurs Rp17.428 per dolar AS), melonjak 19,62 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Lonjakan ini kian terasa pada Maret 2026. Dalam satu bulan saja, nilai ekspor menembus US$1,657 miliar atau sekitar Rp28,88 triliun—naik signifikan 26,80 persen dibanding Maret 2025.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku Utara Simon Sapary dalam rilis resminya, Senin (4/5/2026), mengungkapkan bahwa sektor pertambangan masih menjadi tulang punggung ekspor daerah. Komoditas nikel mencatat kenaikan nilai terbesar, yakni US$375,33 juta atau setara Rp6,54 triliun. Sementara itu, bahan kimia anorganik mencatat lonjakan tertinggi secara persentase, mencapai 69,01 persen.

Secara keseluruhan, ekspor Maluku Utara masih didominasi tiga komoditas utama: besi dan baja, nikel, serta bahan kimia anorganik. Besi dan baja memimpin dengan nilai US$2,065 miliar (Rp35,99 triliun), disusul nikel sebesar US$1,410 miliar (Rp24,59 triliun), dan bahan kimia anorganik US$221,90 juta (Rp3,86 triliun). Ketiganya menyumbang hingga 96,65 persen dari total ekspor.

Dari sisi pasar, Tiongkok tetap menjadi tujuan utama ekspor Maluku Utara dengan nilai fantastis mencapai US$3,612 miliar atau sekitar Rp62,96 triliun sepanjang triwulan pertama 2026.

Menariknya, sebagian ekspor Maluku Utara juga dikapalkan melalui provinsi lain. Nilainya mencapai US$223,98 juta atau Rp3,90 triliun, dengan porsi terbesar melalui pelabuhan di DKI Jakarta sebesar US$218,93 juta.

Selain nikel, sejumlah komoditas lain juga mencatat pertumbuhan positif. Aluminium naik US$119,22 juta, bahan kimia anorganik bertambah US$90,61 juta, dan besi baja meningkat US$56,06 juta. Meski demikian, tidak semua sektor mengalami pertumbuhan. Logam dasar lainnya justru turun tajam hingga 56,45 persen.

Secara umum, kinerja ekspor Maluku Utara mencerminkan ketergantungan yang kuat pada sektor hilirisasi tambang, khususnya nikel. Dalam tiga bulan pertama 2026, tiga komoditas utama tersebut tumbuh 16,43 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Tren ini menegaskan posisi Maluku Utara sebagai salah satu motor penggerak ekspor nasional berbasis sumber daya alam—dengan nikel sebagai bintang utamanya. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *