LENTERA MALUT — Proyek perbaikan drainase di Kelurahan Tanah Tinggi Barat, Kecamatan Ternate Tengah, Kota Ternate, menuai keluhan warga. Setelah berjalan kurang lebih satu bulan, pekerjaan tersebut belum juga rampung.
Kondisi ini membuat akses masyarakat terganggu dan memaksa sebagian warga menempuh jalur lebih jauh untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.
Proyek yang dikerjakan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Ternate melalui Bidang Cipta Karya itu memiliki anggaran sebesar Rp349.471.650 yang bersumber dari APBD Tahun Anggaran 2026.
Berdasarkan papan informasi proyek, Pemerintah mengalokasikan anggaran tersebut untuk kegiatan Perbaikan Drainase Kawasan Ternate 2 yang mencakup Kelurahan Tanah Tinggi Barat dan Kelurahan Maliaro. CV Gamagraha Mandiri bertindak sebagai pelaksana pekerjaan dengan masa pengerjaan selama 90 hari kalender.
Namun, pelaksanaan proyek tersebut menuai keluhan masyarakat. Pantauan Kotapost di lokasi pada Ahad (1/11/2026) menunjukkan pekerjaan baru mencapai sekitar 50 persen. Kondisi jalan yang masih dalam proses pembongkaran dan pembangunan saluran drainase mengganggu aktivitas pengendara sepeda motor maupun mobil.
Salah satu warga, Rafli, mengungkapkan proyek tersebut mulai dikerjakan pada pekan ketiga September 2026. Namun, setelah membongkar material bangunan, pekerja sempat meninggalkan lokasi selama kurang lebih tiga pekan.
Menurut Rafli, pekerja menyampaikan bahwa mereka harus menunggu pasokan material, termasuk semen, sebelum melanjutkan pembangunan.
“Pembongkaran material bangunan dimulai pada pekan ketiga bulan September. Selanjutnya ditinggalkan selama tiga pekan dengan alasan menunggu material seperti semen untuk memulai proses pembangunan,” ujar Rafli.
Rafli mengatakan keterlambatan pekerjaan itu langsung berdampak pada aktivitas masyarakat. Warga kesulitan melintasi jalan karena pekerjaan drainase belum selesai dan kondisi akses belum kembali normal.
Bahkan, sebagian warga memilih melewati jalur lain yang lebih jauh. Mereka terpaksa menggunakan jalan di sekitar pekuburan Kelurahan Maliaro agar tetap bisa menjalankan aktivitas sehari-hari.
“Kami punya aktivitas terganggu karena perbaikan drainase itu belum juga selesai. Akibatnya, saat beraktivitas, masyarakat harus melewati jalan di pekuburan Kelurahan Maliaro. Kami menilai jaraknya sangat jauh,” jelasnya.
Rafli berharap pihak pelaksana segera mempercepat pekerjaan agar warga tidak terus menanggung dampak dari proyek tersebut. Ia menilai masyarakat sudah cukup lama menghadapi kesulitan setiap kali melintasi kawasan itu.
“Kami masyarakat berharap agar perbaikan drainase dapat selesai dalam waktu dekat, sehingga aktivitas masyarakat bisa kembali seperti sebelumnya tanpa kendala saat melintasi jalan itu,” harapnya.
Keluhan serupa juga disampaikan warga lainnya, Eni. Ia menilai perbaikan drainase sangat penting untuk mengurangi risiko genangan dan banjir, terutama ketika musim hujan tiba.
Namun, Eni juga menyoroti perubahan lebar jalan setelah pekerja membongkar dan membangun kembali saluran drainase. Ia khawatir kondisi jalan yang kini terlihat lebih sempit dapat membahayakan pengguna jalan, terutama pengendara mobil.
Menurutnya, pekerja perlu memperhatikan kembali ukuran jalan agar akses kendaraan tetap memadai setelah proyek selesai.
“Sebelumnya jalan di situ besar. Tapi, setelah dilakukan pembongkaran dan pembangunan dimulai, jalan itu menjadi kecil. Kami khawatir kondisi jalan yang sempit berpotensi menyebabkan kecelakaan, khususnya bagi pengguna mobil,” pungkasnya.
Warga berharap pihak pelaksana tidak hanya menuntaskan pembangunan drainase, tetapi juga mengembalikan kondisi jalan agar masyarakat dapat melintas dengan aman dan nyaman.
Dengan anggaran Rp349,47 juta dan masa pengerjaan 90 hari kalender, warga berharap pelaksana dapat menyelesaikan pekerjaan sesuai jadwal kontrak. Mereka juga meminta Dinas PUPR Kota Ternate mengawasi pelaksanaan proyek agar kualitas pekerjaan dan akses masyarakat tetap menjadi perhatian. (Red)

Komentar