SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ekonomi
Beranda » Blog » NTP Maluku Utara Turun, Daya Beli Petani Kembali Tertekan

NTP Maluku Utara Turun, Daya Beli Petani Kembali Tertekan

Lahan Sawah milik Petani di Subaim Halmahera Timur / Dok : malutsatu.com

LENTERA MALUT — Daya tukar petani di Maluku Utara mengalami tekanan pada September 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) turun 1,05 persen menjadi 99,98, dari 101,05 pada Agustus 2026.

BPS menghitung NTP sebagai perbandingan indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang dibayar petani. Indikator ini menggambarkan kemampuan atau daya beli petani di wilayah perdesaan.

Penurunan NTP terjadi ketika harga yang diterima petani memang naik, tetapi kenaikan harga yang harus mereka bayar bergerak lebih cepat. Pada September, indeks harga yang diterima petani (It) naik 0,79 persen dari 134,33 menjadi 135,39.

Sementara itu, indeks harga yang dibayar petani (Ib) meningkat 1,86 persen, dari 132,94 menjadi 135,41. Kenaikan Ib juga terjadi pada seluruh subsektor pertanian.

BPS mencatat empat subsektor mengalami penurunan NTP pada September 2026. Penurunan terbesar terjadi pada subsektor perikanan sebesar 3,40 persen*, disusul peternakan 2,18 persen, tanaman perkebunan rakyat 1,68 persen, dan tanaman pangan 1,24 persen,”kata Kepala Bagian Umum BPS Malut, Harim Arrosid dalam siaran persnya dikutip Jumat, (2/10/2026).

Polda Malut Ciut Tangani Perkara Anak Emas Gubernur Sherly 

Sebaliknya, kata Harim, subsektor hortikultura mencatat kenaikan NTP sebesar 9,83 persen.

“Pada subsektor hortikultura, kenaikan indeks harga yang diterima petani mencapai 11,52 persen, jauh lebih tinggi dibanding kenaikan indeks harga yang dibayar sebesar 1,54 persen,”sebutnya.

Harim menuturkan BPS mencatat kenaikan tersebut terutama berasal dari kelompok sayur-sayuran yang meningkat 17,23 persen, buah-buahan 2,76 persen, serta tanaman obat 1,85 persen.

Subsektor perikanan menjadi kelompok yang mencatat penurunan NTP paling besar. Nilai Tukar Nelayan dan Pembudidaya Ikan (NTNP) turun 3,40 persen.

Penurunan itu terjadi karena indeks harga yang diterima nelayan dan pembudidaya ikan turun 0,26 persen, sementara indeks harga yang mereka bayar meningkat 3,25 persen.

Pemuda Asal Halmahera Selatan Jadi Calon Tunggal KNPI Jatim

Kenaikan biaya juga terlihat pada komponen biaya produksi dan penambahan barang modal yang naik 4,61 persen.

Pada perikanan tangkap, Nilai Tukar Nelayan (NTN) turun 3,40 persen. BPS mencatat penurunan indeks harga yang diterima nelayan antara lain dipengaruhi turunnya harga rata-rata hasil penangkapan laut, terutama tuna, sebesar 0,25 persen.

Di sisi lain, Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) petani meningkat 1,92 persen, dari 133,62 pada Agustus menjadi 136,19 pada September 2026.

Kenaikan terjadi pada 10 kelompok pengeluaran. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat kenaikan tertinggi sebesar 2,38 persen.

Sementara kelompok pendidikan tidak mengalami perubahan berarti. Meski NTP turun, indikator Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) justru bergerak positif. BPS mencatat NTUP Maluku Utara naik 0,42 persen, dari 103,05 pada Agustus menjadi 103,48 pada September 2026.

APBN Maluku Utara Tumbuh, Belanja Daerah Masih Tertahan

Kenaikan NTUP terutama berasal dari hortikultura yang tumbuh 11,42 persen dan tanaman pangan sebesar 0,25 persen.

Sebaliknya, NTUP tanaman perkebunan rakyat turun 0,03 persen, peternakan 0,38 persen, dan perikanan 4,65 persen.

BPS juga mencatat NTP Maluku Utara pada September 2026 berada di bawah angka 100. Setelah berada di atas 100 sejak Mei 2021 hingga Agustus 2026, NTP September turun menjadi 99,98. (Red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement