Daerah  

SPPG Sango Ternate Bahas Distribusi MBG Bersama Para Kepsek

avatar Tidak diketahui
SPPG Sango menggelar rapat koordinasi bersama kepala sekolah dan PIC wilayah distribusi MBG, Kamis 7 Mei 2026 / Istimewa

LENTERA MALUT — Ribuan porsi makanan bergizi setiap hari bukan sekadar soal distribusi, tetapi juga tentang bagaimana memastikan siswa menerima makanan tepat waktu tanpa mengganggu proses belajar di sekolah.

Tantangan itu kini menjadi perhatian serius Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sango Yayasan Walisongo Maluku Utara dalam menjalankan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Ternate.

Untuk memperkuat koordinasi sekaligus mencari solusi atas berbagai kendala di lapangan, SPPG Sango menggelar rapat koordinasi bersama kepala sekolah dan PIC wilayah distribusi MBG, Kamis (7/5/2026).

Rakor tersebut membahas strategi distribusi, ketepatan waktu pengantaran, hingga menjaga kualitas makanan agar tetap layak dikonsumsi siswa penerima manfaat yang mencakup jenjang TK, SD hingga SMP dari Kelurahan Tarau hingga Dufa-Dufa.

Kepala SPPG Sango, M. Fadhlillah Haris, mengatakan rapat koordinasi digelar untuk membahas dinamika pelaksanaan program MBG sekaligus memperkuat komunikasi antar pihak terkait.

“Agenda rapat koordinasi ini mengangkat tema kolaborasi dan bersinergi. Kami dari pihak SPPG bersama mitra, akuntan ahli gizi, serta arahan dari korwil dan korcam terus mendiskusikan dinamika yang terjadi saat ini,” ujarnya.

Menurut Fadhlillah, momentum ujian sekolah dan kenaikan kelas menjadi salah satu perhatian penting karena berdampak langsung terhadap perubahan data penerima manfaat MBG di masing-masing sekolah.

Saat ini, SPPG Sango melayani 10 sekolah yang terdiri dari dua SMP dan delapan SD dengan total distribusi mencapai sekitar 2.400 porsi makanan setiap hari.

Sementara itu, Mitra SPPG Sango Yayasan Walisongo Maluku Utara, Sendy Rahman, menegaskan rakor dilakukan agar potensi kendala dalam pelaksanaan program dapat diantisipasi sejak dini.

“Harapan kita meminimalisir hal-hal minor maupun mayor yang terjadi. Jadi sebelum menjadi musibah, kita sudah antisipasi,” katanya.

Ia mencontohkan distribusi MBG di SMP Negeri 2 Ternate yang mencapai 1.060 porsi per hari menjadi tantangan tersendiri. Jika tidak diatur dengan baik, distribusi makanan berpotensi mengganggu proses belajar mengajar.

Karena itu, dalam rapat disepakati distribusi makanan di SMP Negeri 2 Ternate dilakukan dua kali, menyesuaikan dua sesi belajar siswa.

“Untuk sesi pagi makanan harus sudah ready jam 9 sebelum istirahat jam 10. Sedangkan sesi siang, makanan harus siap jam 12 karena siswa masuk jam 1,” jelasnya.

Tak hanya distribusi, proses memasak juga dilakukan dua tahap agar kualitas makanan tetap terjaga dan layak dikonsumsi siswa.

Di sisi lain, Koordinator Wilayah SPPG Kota Ternate, Hizkia Jaya Sakti, menilai rakor tersebut sebagai langkah positif karena melibatkan evaluasi internal dan eksternal secara bersama-sama.

“Saya kira ini sesuatu yang baik yang dilaksanakan oleh SPPG. Ini yang pertama dilakukan se-Kota Ternate. Harapannya SPPG lain juga mengikuti,” ujarnya.

Menurut Hizkia, sejumlah tantangan yang masih ditemukan di lapangan di antaranya distribusi makanan, ketersediaan bahan pangan dan susu, hingga ketepatan waktu pengantaran ke sekolah penerima manfaat.

Ia menjelaskan, sesuai standar operasional prosedur (SOP) dalam petunjuk teknis MBG, distribusi ideal dilakukan pada pukul 08.30 hingga 10.00 WIT atau sebelum jam istirahat siswa dimulai.

“Yang paling ideal itu sebelum mereka istirahat, makanan sudah tersedia sehingga saat istirahat mereka langsung makan,” pungkasnya. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *