LENTERA MALUT – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Ternate terus mendorong kegiatan pembinaan keterampilan bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) guna mendukung program ketahanan pangan sesuai arahan kementerian.
Kepala Lapas Kelas IIA Ternate, Faozul Ansori, menyampaikan keterangan tersebut saat dikonfirmasi awak media di lingkungan kandang ayam petelur Lapas pada Senin (28/9/2026).
“Terkait dengan program kerja dari kementerian, salah satunya diprioritaskan adalah ketahanan pangan. Lapas Ternate dalam menyikapi perintah atasan melakukan beberapa pembinaan keterampilan di sini,” ujar Faozul.
Faozul menjelaskan bahwa pembinaan ketahanan pangan yang dijalankan mencakup sektor pertanian hortikultura dan peternakan. Pada sektor hortikultura, komoditas yang ditanam antara lain cabai, jagung, singkong, serta kangkung. Sedangkan pada sektor peternakan, Lapas mengembangkan budidaya ayam pedaging dan ayam petelur.
Untuk budidaya ayam petelur, pihak Lapas saat ini masih melakukan tahap uji coba dengan populasi sekitar 20 ekor. Apabila uji coba ini berkembang dengan baik, Lapas berencana menambah pemesanan bibit. Sementara itu, budidaya ayam pedaging di Lapas Ternate telah berlangsung selama bertahun-tahun. Namun, pengembangan sektor peternakan kerap menghadapi kendala keterlambatan pengiriman bibit dari Manado.
“Ayam petelur ini kita masih dalam masa uji coba, ada sekitar 20 ekor. Nanti kalau perkembangannya bagus, kita melakukan pemesanan bibit juga,” kata Faozul.
“Tapi kalau ayam pedaging kita sudah bertahun-tahun, Bu. Cuma ini karena nunggu kiriman, itu kan bibitnya dari Manado ya,” tambahnya.
Di sektor hortikultura, program ini telah membuahkan hasil panen jagung manis sebanyak 108 kg. Hasil panen tersebut dijual seharga Rp50.000 per ikat (isi 10 biji) dengan perolehan omzet penjualan mencapai sekitar Rp400.000.
Meski demikian, proses penanaman sempat terkendala cuaca panas. Kondisi cuaca tersebut mengharuskan warga binaan melakukan penyiraman tanaman sebanyak 3 hingga 4 kali dalam sehari.
“Dijadwalkan dalam satu hari itu tiga sampai empat kali menyiram karena panas gitu, musim panas,” ungkap Faozul.
“Kalau kemarin yang kita sempat panen itu jagung manis. Nah, jagung manis itu 108 kg yang kita panen dengan harga satuannya yang kita jual satu ikat 10 biji seharga Rp50.000,” jelasnya.
Saat ini, sebanyak lima orang warga binaan aktif berpartisipasi dalam mengelola program ketahanan pangan harian.
Untuk menjamin penyerapan hasil panen, Lapas Ternate menjalin kerja sama dengan pihak vendor penyedia bahan makanan Lapas [4]. Kerja sama ini sejalan dengan arahan Menteri yang mewajibkan pihak vendor menyerap hasil kegiatan ketahanan pangan di UPT minimal sebesar 5 persen.
“Jadi untuk sayur-sayuran kita kerja sama dengan pihak vendor penyedia makanan. Sesuai arahan Pak Menteri, vendor wajib mengambil kegiatan ketahanan pangan yang ada di UPT minimal 5%,” tegas Faozul.
Ia menambahkan bahwa komoditas yang rutin diserap oleh pihak vendor saat ini adalah kangkung dan terong untuk kebutuhan bahan makanan warga binaan di dalam Lapas. (Red)

Komentar