LENTERA MALUT — Sebanyak 40 guru SMA dan SMK dari berbagai wilayah di Maluku Utara bersiap mengubah wajah ruang kelas mereka menjadi lebih ramah anak disabilitas. Langkah nyata ini bermula saat mereka berkumpul untuk mendalami metode pembelajaran adaptif dalam agenda Bimbingan Teknis (Bimtek) Pendidikan Inklusi, Jumat (24/7/2026).
Pemerintah daerah menggelar pelatihan intensif ini untuk mendobrak sistem pembelajaran konvensional yang sering kali belum mengakomodasi siswa berkebutuhan khusus.
Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Khusus Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Maluku Utara, Ruslan Zainudin, menegaskan bahwa pemenuhan hak pendidikan bagi anak disabilitas tidak boleh ditunda lagi. Pelatihan ini menjadi tonggak penting bagi kesiapan sekolah di berbagai wilayah.
“Kami ingin memastikan tidak ada lagi anak di Maluku Utara yang terhambat sekolahnya hanya karena keterbatasan fisik maupun mental. Guru-guru ini adalah agen perubahan yang akan membuka pintu kelas selebar-lebarnya bagi semua anak,” ujar Ruslan di sela-sela agenda Bimtek.
Target dari pelatihan ini sangat jelas. Para guru harus mampu menguasai metode Universal Design for Learning (UDL) dan mahir memodifikasi kurikulum sekolah.
Dua pakar dari BPMP Provinsi Maluku Utara, Meydiawati dan Arius Bowombengo, memimpin langsung jalannya pembekalan. Mereka menggembleng para peserta dengan strategi praktis agar sekolah bisa memberikan hak pendidikan yang sama rata, adil, dan bermutu bagi semua anak.
Penerapan metode ini diharapkan dapat langsung meruntuhkan sekat-sekat hambatan belajar yang selama ini kerap dialami oleh siswa disabilitas di dalam kelas.
Gerakan perubahan ini menggerakkan puluhan sekolah dari berbagai kabupaten dan kota untuk mengirimkan guru terbaik mereka. Secara keseluruhan, gerakan ini melibatkan 27 SMA dan 13 SMK dengan rincian asal wilayah sebagai berikut :
- Kota Ternate: 12 sekolah
- Kota Tidore Kepulauan: 11 sekolah.
- Kabupaten Halmahera Tengah: 5 sekolah.
- Kabupaten Halmahera Utara: 4 sekolah.
- Kabupaten Halmahera Barat: 4 sekolah.
- Kabupaten Halmahera Timur: 4 sekolah.
Melalui pelatihan terukur ini, para pendidik tersebut kini memikul misi baru: pulang ke daerah masing-masing dan langsung menerapkan sistem kelas inklusif demi masa depan siswa berkebutuhan khusus yang lebih setara. (Red)

Komentar