SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Maluku Utara
Beranda » Blog » Dinkes Malut Dorong Aksi Bersama untuk Putus Rantai Penularan TBC

Dinkes Malut Dorong Aksi Bersama untuk Putus Rantai Penularan TBC

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi Maluku Utara, Muhammad Isa Tauda / Dok : LM

LENTERA MALUT — Dinas Kesehatan Provinsi Maluku Utara memperkuat kolaborasi lintas sektor untuk mempercepat penanggulangan tuberkulosis (TBC), khususnya pada anak.

Langkah ini menjadi penting karena estimasi kasus TBC di Maluku Utara mencapai 4.847 kasus yang tersebar di 10 kabupaten dan kota, sementara penemuan kasus baru baru mencapai sekitar 60 persen dari estimasi tersebut.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi Maluku Utara, Muhammad Isa Tauda pada Kamis, (20/10/2026) menegaskan bahwa penanggulangan TBC membutuhkan keterlibatan semua pihak, bukan hanya tenaga kesehatan.

“Target kita harus mencapai 90 persen penemuan kasus. Strategi utamanya adalah temukan, obati sampai sembuh, dan lakukan investigasi kontak,” tegas Isa dalam Pertemuan Diskusi Strategis Lintas Sektor untuk Penguatan Penanggulangan Tuberkulosis Anak.

Menurut Isa, rendahnya penemuan kasus masih dipengaruhi stigma sosial dan minimnya pengetahuan masyarakat tentang TBC. Sebagian warga enggan memeriksakan diri karena merasa malu atau menganggap penyakit tersebut sebagai sesuatu yang memalukan maupun penyakit keturunan.

DPD II Golkar Berpeluang Rombak Fraksi DPRD Ternate

Padahal, TBC merupakan penyakit menular yang dapat menyerang siapa saja. Karena itu, Dinas Kesehatan mendorong peningkatan edukasi publik agar masyarakat mengenali gejala, segera menjalani pemeriksaan, dan mengikuti pengobatan hingga tuntas.

Penanggulangan TBC Tak Cukup Mengandalkan Sektor Kesehatan

Isa menjelaskan, petugas kesehatan selama ini berfokus menemukan kasus, memberikan pengobatan, dan memastikan pasien sembuh. Namun, upaya tersebut perlu mendapat dukungan dari sektor lain karena penyebaran TBC berkaitan erat dengan kondisi sosial, ekonomi, gizi, dan lingkungan tempat tinggal.

Kemiskinan, misalnya, dapat membatasi akses masyarakat terhadap makanan bergizi. Padahal, asupan gizi yang baik berperan penting dalam menjaga daya tahan tubuh. Selain itu, permukiman padat, ventilasi yang buruk, serta minimnya pencahayaan alami di dalam rumah dapat meningkatkan risiko penularan.

“Penanggulangan TBC tidak bisa hanya dibebankan kepada sektor kesehatan. Kita membutuhkan peran seluruh instansi agar persoalan yang menjadi akar penyebaran penyakit ini bisa ditangani bersama,” ujar Isa.

Ia menekankan pentingnya keterlibatan dinas yang menangani pangan, perumahan dan kawasan permukiman, serta sosial. Dinas pangan dapat mendukung pemenuhan gizi masyarakat, sektor perumahan mendorong terciptanya hunian sehat, sedangkan dinas sosial membantu masyarakat rentan melalui program perlindungan sosial.

Menang Musda Golkar, Ardian Siapkan Strategi Rebut Kursi DPRD

Kolaborasi tersebut sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2021 tentang Penanggulangan Tuberkulosis, yang menjadi salah satu landasan penguatan upaya penanggulangan TBC melalui perencanaan dan aksi lintas sektor di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.

Lebih dari 8.000 Orang Menjadi Sasaran Investigasi Kontak

Selain meningkatkan penemuan kasus, Dinas Kesehatan Maluku Utara mendorong investigasi kontak untuk memutus rantai penularan. Dalam pelaksanaannya, petugas Puskesmas mendatangi rumah pasien guna memeriksa anggota keluarga dan orang lain yang memiliki kontak erat dengan penderita.

Di Maluku Utara, sasaran pemeriksaan kontak diperkirakan mencapai lebih dari 8.000 orang. Petugas juga memberikan terapi pencegahan TBC kepada kontak yang memenuhi persyaratan sesuai ketentuan medis.

Namun, pelaksanaan program tersebut masih menghadapi tantangan. Sebagian warga yang merasa sehat cenderung enggan menjalani pemeriksaan atau mengonsumsi obat pencegahan karena belum memahami manfaatnya.

Karena itu, Isa menilai edukasi yang berkelanjutan perlu menjangkau keluarga pasien dan masyarakat luas. Media massa, tokoh agama, guru, serta pihak sekolah dapat membantu menyampaikan informasi yang benar sekaligus mengurangi stigma terhadap penderita TBC.

BRI Ternate Gandeng Kejati, Kenalkan Layanan Digital dan Pembiayaan

“Kita membutuhkan dukungan semua pihak untuk meningkatkan kesadaran masyarakat. Jangan sampai orang yang mengalami gejala justru takut memeriksakan diri karena stigma,” menjadi pesan penting dalam penguatan penanggulangan TBC di Maluku Utara.

Ternate Catat Estimasi Kasus Tertinggi

Berdasarkan pemetaan Dinas Kesehatan Provinsi Maluku Utara, Kota Ternate mencatat estimasi kasus TBC tertinggi, yakni 1.057 kasus. Kabupaten Halmahera Selatan menyusul dengan 756 kasus, sedangkan Kabupaten Halmahera Utara mencatat 719 kasus.

Angka tersebut menunjukkan perlunya penguatan upaya penemuan kasus, pemeriksaan kontak, dan pendampingan pengobatan secara merata di seluruh wilayah.

Dinas Kesehatan juga melibatkan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) untuk memperkuat aspek perencanaan dan koordinasi. Pemerintah daerah menjalankan upaya penanggulangan dengan mengacu pada petunjuk teknis Kementerian Kesehatan, disertai pemantauan dan evaluasi rutin oleh pemerintah pusat bersama kementerian terkait.

Isa mengingatkan bahwa TBC bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi juga dapat menimbulkan dampak sosial dan ekonomi bagi keluarga. Ketika penyakit ini menyerang pencari nafkah, keluarga berisiko kehilangan pendapatan. Pada anak-anak, TBC juga dapat mengganggu aktivitas sekolah dan konsentrasi belajar.

Oleh sebab itu, ia berharap seluruh pemerintah kabupaten dan kota di Maluku Utara memperkuat komitmen dan menerjemahkannya ke dalam aksi nyata.

Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak menunda pemeriksaan ketika mengalami gejala yang mengarah pada TBC, terutama batuk berkepanjangan.

“Segera periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat jika mengalami gejala yang mengarah pada TBC. Semakin cepat ditemukan dan diobati, semakin besar peluang pasien untuk sembuh sekaligus mencegah penularan kepada orang lain,” pungkasnya.

Melalui kolaborasi lintas sektor, penguatan deteksi dini, pengobatan hingga tuntas, dan edukasi masyarakat, Dinas Kesehatan Provinsi Maluku Utara berharap penemuan kasus TBC meningkat dan penularan dapat ditekan secara berkelanjutan. (Red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement