LENTERA MALUT – Penyandang disabilitas di Maluku Utara kini memiliki kesempatan lebih luas untuk mengikuti pelatihan vokasi di Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Ternate. Melalui kebijakan khusus, BPVP Ternate memberikan akses masuk tanpa tes seleksi bagi calon peserta disabilitas selama instruktur menilai mereka mampu mengikuti pelatihan yang dipilih.
Subkoordinator Penyelenggaraan Pelatihan BPVP Ternate, Mustakim Linggiallo, menyampaikan kebijakan tersebut saat memberikan keterangan kepada awak media, Rabu (14/10/2026). Ia menegaskan, BPVP Ternate membuka kesempatan yang sama bagi masyarakat, termasuk penyandang disabilitas, untuk meningkatkan keterampilan dan mempersiapkan diri memasuki dunia kerja.
“Pelatihan di balai ini bukan hanya diperuntukkan bagi non-disabilitas, tetapi juga termasuk disabilitas. Bahkan untuk disabilitas, kami memberikan ruang khusus dalam proses seleksi berupa voucher khusus sebagai kartu sakti, sehingga mereka bisa langsung masuk dan ikut pelatihan tanpa harus mengikuti tes seleksi,” kata Mustakim.
Menurut Mustakim, kebijakan tersebut mengikuti arahan Menteri Ketenagakerjaan untuk memperkuat kesetaraan kesempatan bagi penyandang disabilitas. BPVP Ternate menerapkan jalur khusus agar kondisi disabilitas tidak langsung menutup kesempatan seseorang untuk memperoleh keterampilan kerja.
“Ini sudah menjadi arahan Menteri terkait kesetaraan penyandang disabilitas bahwa mereka diberikan jalur tersendiri. Bagi pelatihan vokasi, ini betul-betul jalur VIP. Tidak ada lagi istilah bahwa peserta tidak memenuhi persyaratan; selama instrukturnya menyatakan sanggup melatih, peserta tetap kita terima,” ujarnya.
BPVP Ternate telah menerapkan kebijakan tersebut dengan menerima salah satu penyandang disabilitas atas nama Muhammad Abdul Junaidi, penyandang disabilitas ganda berupa gangguan pendengaran dan kondisi spastik, dalam pelatihan teknik sepeda motor. Junaidi berhasil menyelesaikan pelatihan tersebut dan menerima kartu ATM bantuan pelatihan.
Mustakim mengatakan, pengalaman Junaidi menunjukkan bahwa penyandang disabilitas juga memiliki kesempatan untuk mengembangkan keterampilan melalui pelatihan vokasi.
“Kami pernah mengakomodasi peserta disabilitas di jurusan sepeda motor, yaitu Muhammad Abdul Junaidi. Beliau ini penyandang disabilitas ganda, rungu dan spastik. Namun, semangat belajarnya tetap sangat tinggi,” ungkap Mustakim.
Pengalaman itu sekaligus memperlihatkan pentingnya akses pelatihan yang mempertimbangkan kemampuan setiap peserta. Dengan dukungan instruktur dan program yang sesuai, penyandang disabilitas dapat memperoleh keterampilan yang berguna untuk membangun kemandirian.
BPVP Ternate juga mempermudah calon peserta melalui dua jalur pendaftaran. Masyarakat dapat mendaftar secara mandiri melalui portal resmi Kementerian Ketenagakerjaan di siapkerja.kemnaker.go.id atau meminta bantuan petugas di Kios Siap Kerja, kantor BPVP Ternate.
Mustakim menjelaskan, petugas siap mendampingi calon peserta yang mengalami kesulitan saat mengisi data atau menyelesaikan tahapan pendaftaran.
“Untuk pendaftaran, berlaku secara umum melalui portal siapkerja.kemnaker.go.id. Namun, jika calon peserta mengalami kesulitan, mereka cukup datang langsung ke Kios Siap Kerja di kantor balai. Petugas kami siap membantu proses pendaftaran dari awal sampai selesai,” jelasnya.
Kemudahan tersebut memberi ruang bagi calon peserta disabilitas yang membutuhkan pendampingan ketika mengakses layanan pendaftaran.
Meski membuka jalur khusus tanpa tes seleksi, BPVP Ternate tetap memperhatikan keselamatan dan kemampuan peserta selama mengikuti pelatihan. Tim instruktur akan mengidentifikasi kondisi fisik serta kebutuhan calon peserta sebelum mengarahkan mereka ke program kejuruan yang sesuai.
Proses tersebut membantu instruktur menentukan bidang keterampilan yang dapat peserta ikuti dengan aman, termasuk teknik otomotif maupun komputer.
“Instruktur kami akan melakukan identifikasi kondisi fisik peserta terlebih dahulu untuk melihat kemampuannya. Kita lihat kondisinya agar bisa mengarahkan calon peserta ke program kejuruan yang paling tepat dan aman bagi mereka,” tutur Mustakim.
Melalui pendekatan tersebut, BPVP Ternate berupaya memastikan peserta tidak hanya memperoleh akses masuk, tetapi juga mengikuti proses pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan masing-masing.
Mustakim menilai pelatihan vokasi perlu berjalan beriringan dengan dukungan setelah peserta menyelesaikan program. Karena itu, ia mendorong pemerintah daerah dan Dinas Tenaga Kerja setempat untuk memperkuat pendampingan bagi lulusan disabilitas, terutama melalui bantuan peralatan kerja dan modal usaha.
Ia menjelaskan, BPVP Ternate berfokus pada peningkatan keterampilan melalui pelatihan vokasi. Sementara itu, dukungan penempatan kerja dan bantuan peralatan usaha membutuhkan sinergi dengan instansi terkait.
“Kami di BPVP fokus pada pelatihan vokasi, sehingga untuk penyaluran kerja dan bantuan peralatan usaha itu bukan menjadi kewenangan balai. Kami sangat mengharapkan sinergi dengan pemerintah daerah atau Dinas Tenaga Kerja setempat untuk memberikan bantuan peralatan usaha agar para lulusan disabilitas ini bisa mandiri,” pungkas Mustakim.
Melalui jalur khusus bagi penyandang disabilitas, BPVP Ternate berupaya memperluas akses masyarakat terhadap keterampilan kerja. Dukungan pemerintah daerah, dunia usaha, dan instansi ketenagakerjaan juga menjadi faktor penting agar keterampilan yang diperoleh peserta dapat membuka jalan menuju pekerjaan maupun usaha mandiri. (Red)

Komentar