LENTERA MALUT – Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Maluku Utara memang turun pada Mei 2026. Namun, penurunannya masih tipis di tengah bertambahnya jumlah angkatan kerja.
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku Utara mencatat TPT pada Mei 2026 sebesar 4,40 persen, turun 0,06 persen poin dibandingkan Februari 2026 yang mencapai 4,46 persen. Artinya, dari setiap 100 orang yang masuk angkatan kerja, sekitar empat orang masih menganggur.
Jumlah angkatan kerja justru bertambah. Pada Mei 2026, BPS mencatat sebanyak 705.147 orang masuk dalam angkatan kerja, naik 7.242 orang dibandingkan Februari 2026.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 674.149 orang bekerja, bertambah 7.336 orang dibandingkan Februari yang mencapai 666.813 orang. Sementara jumlah penganggur turun 94 orang, dari 31.092 orang menjadi 30.998 orang.
Kenaikan jumlah pekerja ikut mendorong Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK). Pada Mei 2026, TPAK Maluku Utara mencapai 68,72 persen, naik 0,44 persen poin dibandingkan Februari 2026 sebesar 68,28 persen.
Namun, penurunan TPT belum terjadi secara merata. Berdasarkan jenis kelamin, TPT laki-laki turun menjadi 4,05 persen dari 4,33 persen pada Februari. Sebaliknya, TPT perempuan justru naik menjadi 4,97 persen dari sebelumnya 4,66 persen.
Kesenjangan juga terlihat berdasarkan wilayah tempat tinggal. TPT di perkotaan mencapai 5,93 persen, lebih tinggi dibandingkan perdesaan yang berada di angka 3,58 persen. TPT perkotaan naik 0,23 persen poin, sedangkan TPT perdesaan turun 0,23 persen poin dibandingkan Februari 2026.
Persoalan lebih mencolok terlihat pada kelompok lulusan SMK. BPS mencatat TPT lulusan Sekolah Menengah Kejuruan mencapai 15,08 persen, menjadi yang tertinggi dibandingkan seluruh jenjang pendidikan pada Mei 2026.
Angka tersebut jauh di atas TPT lulusan SMA sebesar 5,90 persen, Diploma IV/S1/S2/S3 sebesar 4,12 persen, SD ke bawah 2,51 persen, SMP 2,47 persen, serta Diploma I/II/III sebesar 2,71 persen.
Di sisi lain, struktur tenaga kerja Maluku Utara masih kuat di sektor informal. BPS mencatat 430.689 orang atau 63,89 persen pekerja berada di sektor informal. Sementara pekerja formal hanya 243.460 orang atau 36,11 persen.
“Sektor industri pengolahan menjadi lapangan usaha yang paling banyak menyerap tenaga kerja dengan porsi 25,19 persen,”ungkap Kepala Bagian Umum, Harim Arrosid dalam rilis pers yang dikutip media pada, Selasa (11/8/2026).
Berikutnya sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 24,26 persen serta perdagangan besar dan eceran sebesar 12,39 persen.
BPS juga mencatat kondisi pekerja tidak penuh masih cukup besar. Sebanyak 35,78 persen penduduk bekerja memiliki jam kerja kurang dari 35 jam per minggu. Dari jumlah itu, 7,37 persen tergolong setengah pengangguran dan 28,41 persen merupakan pekerja paruh waktu.
Data ketenagakerjaan tersebut menunjukkan pasar kerja Maluku Utara bergerak positif dengan bertambahnya jumlah pekerja dan turunnya jumlah penganggur. Namun, angka TPT yang masih mencapai 4,40 persen, tingginya pengangguran lulusan SMK, serta dominasi pekerjaan informal menunjukkan tantangan penyerapan tenaga kerja masih cukup besar.
Data tersebut berasal dari hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Mei 2026. (Red)

Komentar