Ekonomi
Beranda » Blog » Komoditas Nikel Dorong Surplus Dagang Maluku Utara Empat Miliar

Komoditas Nikel Dorong Surplus Dagang Maluku Utara Empat Miliar

Kapal Armada Permata mengangkut peti kemas melintasi perairan Ternate, Maluku Utara / Dok : Antara

LENTERA MALUT — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku Utara melaporkan neraca perdagangan luar negeri selama semester pertama tahun 2026. Berdasarkan pencatatan terbaru, akumulasi neraca perdagangan sejak Januari hingga Juni 2026 berhasil mencetak surplus besar hingga mencapai US$4.758,93 juta atau sekitar US$4,75 miliar.

Hanya pada bulan Juni 2026 saja, aktivitas perdagangan internasional di wilayah ini menyumbang surplus sebesar US$706,32 juta. Hasil positif tersebut terjadi berkat performa nilai ekspor Juni 2026 yang menyentuh angka US$1.464,15 juta, jauh melampaui nilai impornya yang berada di angka US$757,83 juta.

Pemicu utama lonjakan ekspor ini berasal dari komoditas pertambangan dan hasil olahan nikel. Sepanjang enam bulan pertama tahun 2026, komoditas nikel (HS 75) menyumbang kenaikan nilai ekspor terbesar hingga mencapai US$1.102,14 juta.

Nilai total ekspor terbesar masih didominasi oleh golongan Besi dan Baja (HS 72) senilai US$4.338,52 juta, yang disusul oleh Nikel (HS 75) sebesar US$3.132,32 juta. Tiongkok pun kokoh menjadi negara tujuan ekspor paling utama bagi Maluku Utara dengan total serapan pasar mencapai 91,30 persen atau setara US$7.616,16 juta.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala BPS Provinsi Maluku Utara, Harim Arrosid, menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi lewat jalur perdagangan internasional ini berjalan sangat dinamis dan ekspansif jika bersanding dengan performa tahun lalu.

Pengurus PAN Maluku Utara Hadirkan Jajaran Menteri Kabinet

“Nilai ekspor Provinsi Maluku Utara sepanjang Januari hingga Juni 2026 meroket hingga 21,80 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025. Pertumbuhan ini membuktikan bahwa produk unggulan daerah kita, terutama nikel serta besi dan baja, masih menjadi primadona dan memiliki daya saing yang sangat kuat di pasar global, khususnya di pasar Tiongkok,” ujar Harim Arrosid dalam siaran pers di Ternate, Senin (3/8/2026).

Di sisi lain, aktivitas impor Maluku Utara pada periode Januari–Juni 2026 menyentuh angka US$3.582,98 juta, atau naik sebesar 35,55 persen secara tahunan. Golongan barang Garam, Belerang, dan Kapur (HS 25) menjadi komoditas penambah nilai impor tertinggi dengan kenaikan mencapai US$511,87 juta demi menyokong kebutuhan industri lokal.

Sementara itu, Tiongkok juga mendominasi sebagai negara pemasok utama barang impor ke Maluku Utara dengan porsi mencapai 54,87 persen, diikuti oleh Filipina dan Arab Saudi. (Red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement