LENTERA MALUT — Bank Indonesia (BI) Perwakilan Maluku Utara menyiapkan Festival Salawaku 2026 sebagai ruang promosi budaya, produk lokal, dan pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Festival yang berlangsung pada 6–8 November 2026 di Benteng Fort Oranje, Kota Ternate, itu juga akan membuka peluang kemitraan dan akses pembiayaan bagi pelaku usaha daerah.
Mengusung tema “Lestarikan Budaya, Kembangkan Karya, Ekonomi Kreatif untuk Ekonomi Inklusif”, Festival Salawaku tahun ini tidak hanya menghadirkan pameran produk UMKM. BI juga merancang berbagai kegiatan untuk memperkuat kapasitas usaha, membangun jejaring bisnis, dan memperluas akses pasar bagi produk unggulan Maluku Utara.
Kepala Perwakilan BI Maluku Utara, Handi Susila, memperkenalkan rangkaian kegiatan tersebut dalam media briefing di Gedung Penunjang Kantor Perwakilan BI Maluku Utara, Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Maliaro, Ternate Tengah, Selasa (3/11/2026).
Handi menjelaskan, Festival Salawaku 2026 merupakan penyelenggaraan kedua setelah BI menggelar kegiatan serupa di Waterboom pada 2025. Jika pelaksanaan sebelumnya lebih menonjolkan pameran produk UMKM, tahun ini BI memperluas fokus kegiatan pada penguatan merek, peningkatan kapasitas usaha, kemitraan, dan pembiayaan.
“Salawaku tahun lalu lebih banyak menampilkan produk-produk UMKM. Tahun ini kami ingin memperkuat branding sekaligus mempercepat pengembangan UMKM agar mampu meningkatkan daya saing dan memperluas pasar,” ujar Handi.
Ia menjelaskan, UMKM memiliki peran penting dalam menopang perekonomian nasional. Jumlahnya mencapai sekitar 57 juta unit atau 99 persen dari total unit usaha di Indonesia.
Sektor tersebut juga menyumbang 60,5 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional, menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja, serta berkontribusi 15,7 persen terhadap total ekspor Indonesia.
Di Maluku Utara, BI mencatat jumlah UMKM mencapai 194.996 unit. Sebagian besar pelaku usaha terkonsentrasi di Kota Ternate dan Kabupaten Halmahera Selatan dengan porsi sekitar 60 persen dari total UMKM di provinsi ini.
Meski demikian, Handi melihat peluang pengembangan UMKM masih terbuka di kabupaten dan kota lainnya. Ia mencontohkan potensi produk tenun di Kabupaten Pulau Taliabu yang dapat dikembangkan melalui pendampingan dan kolaborasi lintas lembaga.
“Kami berharap kabupaten dan kota yang sudah memiliki embrio UMKM unggulan dapat terus mengembangkannya. Di Taliabu, misalnya, ada potensi UMKM tenun dan produk lainnya. Kami ingin membangun sinergi agar program pengembangan UMKM di daerah tersebut dapat berjalan lebih kuat,” jelasnya.
Selain memperkuat sektor usaha, UMKM juga berperan dalam menyerap tenaga kerja di Maluku Utara. Handi menyebut sektor ini melibatkan sekitar 584 ribu tenaga kerja sehingga pengembangannya dapat memberikan dampak luas terhadap perekonomian masyarakat.
Namun, BI juga mencermati tantangan pembiayaan yang masih dihadapi pelaku UMKM. Handi mengungkapkan pertumbuhan kredit perbankan pada September 2026 mencapai 5,56 persen, melambat dibandingkan Desember 2025 yang tercatat 9,22 persen. Penyaluran kredit UMKM bahkan mengalami kontraksi pada September 2026.
“Hal ini menjadi perhatian bersama. Kita perlu mendorong peningkatan penyaluran kredit UMKM di Maluku Utara agar sektor tersebut memperoleh dukungan pembiayaan yang memadai untuk berkembang,” katanya.
Untuk menjawab tantangan itu, BI mengembangkan UMKM melalui tiga pilar utama, yakni korporatisasi, peningkatan kapasitas, dan pembiayaan.
Melalui korporatisasi, BI mendorong pelaku UMKM memperkuat kelembagaan, meningkatkan produktivitas, mengembangkan inovasi, serta memanfaatkan digitalisasi. Pada aspek peningkatan kapasitas, BI memberikan perhatian pada manajemen usaha, kualitas produk, akses pasar, pengelolaan keuangan, sumber daya manusia, dan penguasaan teknologi digital.
Sementara itu, pilar pembiayaan mendorong perluasan akses UMKM terhadap sumber pendanaan agar pelaku usaha dapat mengembangkan bisnis secara optimal dan berkelanjutan.
Handi menegaskan, Festival Salawaku menjadi salah satu sarana BI untuk menerapkan ketiga pilar tersebut melalui kegiatan yang mempertemukan pelaku usaha dengan calon mitra, pasar, dan lembaga pembiayaan.
“Festival ini bukan hanya menjadi panggung promosi atau ajang kurasi produk unggulan agar siap bersaing di pasar nasional maupun internasional. Kami juga ingin memperkuat ekosistem UMKM melalui perluasan kemitraan, peningkatan literasi dan kapasitas usaha, serta pembukaan akses pembiayaan yang lebih inklusif,” ungkapnya.
Di sisi lain, Festival Salawaku juga mengangkat kekayaan sejarah dan budaya Maluku Utara. Handi menyebut provinsi ini memiliki beragam potensi yang tercermin melalui produk UMKM, wastra dan kain tradisional, seni, kuliner, hingga destinasi pariwisata di berbagai kabupaten dan kota.
Melalui festival tersebut, BI ingin memberikan ruang apresiasi dan promosi bagi pelaku usaha, seniman, komunitas budaya, serta penggerak ekonomi kreatif daerah.
BI juga menyiapkan edukasi publik sebagai bagian dari rangkaian festival. Materinya mencakup kebanksentralan, sistem pembayaran digital, penggunaan rupiah, perlindungan konsumen, dan literasi ekonomi kreatif.
Sebelum menggelar acara utama, BI Maluku Utara telah menjalankan sejumlah kegiatan *Road to Salawaku*. Rangkaian tersebut mencakup penguatan kapasitas, pendampingan pelaku usaha, serta perluasan jejaring komunitas dan UMKM.
Pada 6–8 November mendatang, Festival Salawaku 2026 akan menghadirkan pelatihan dan pendampingan UMKM, fasilitasi akses pembiayaan, jejaring usaha, edukasi publik, pameran produk unggulan, kompetisi kreatif, talkshow edukasi, hingga pesta rakyat.
Melalui penyelenggaraan Festival Salawaku, BI Maluku Utara berharap pelaku UMKM dapat memperluas pasar dan meningkatkan daya saing produk. Kegiatan ini juga diharapkan memperkuat identitas budaya daerah sekaligus membuka ruang kolaborasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif di Maluku Utara. (Red)

Komentar