LENTERA MALUT – Perlambatan ekonomi global masih membayangi sejumlah negara di dunia. Tekanan inflasi, kenaikan harga komoditas, hingga ketidakpastian pasar keuangan akibat kebijakan moneter Amerika Serikat terus memberi dampak terhadap stabilitas ekonomi global.
Pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan melambat dari 3,2 persen menjadi 3,1 persen dan berpotensi turun mendekati 3 persen. Kenaikan harga minyak dan berbagai komoditas menjadi pemicu utama inflasi di banyak negara, termasuk negara maju.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku Utara, Handi Susila, mengatakan tekanan inflasi global membuat ruang penurunan suku bunga oleh The Fed semakin terbatas.
Kondisi tersebut terlihat dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun yang sempat bergerak di kisaran 4,25 persen hingga menyentuh sekitar 4,4 persen.
“Kenaikan yield memicu perpindahan aliran modal ke aset safe haven seperti dolar AS dan emas. Dampaknya, negara berkembang menghadapi tekanan nilai tukar dan potensi capital outflow,” ujar Handi dalam Kie Raha Economic Forum di Ruang Maitara, Kantor Bank Indonesia Maluku Utara, Rabu (20/5/2026).
Di tengah tekanan global itu, Bank Indonesia memastikan tetap menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui berbagai instrumen kebijakan moneter. BI melakukan intervensi pasar melalui Non Deliverable Forward (NDF), transaksi spot, hingga penguatan instrumen moneter lainnya.
BI juga memperkuat daya tarik investasi portofolio melalui instrumen SRBI dan menyesuaikan kebijakan transaksi valuta asing untuk menjaga stabilitas pasar keuangan nasional.
Handi menjelaskan, cadangan devisa Indonesia hingga akhir Maret 2026 mencapai sekitar USD148 miliar atau setara 5,8 bulan impor. Angka tersebut dinilai masih jauh di atas standar kecukupan internasional.
Di sisi lain, perekonomian nasional menunjukkan tren positif pada triwulan I 2026. Ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen secara tahunan, meningkat dibanding triwulan IV 2025 yang berada di level 5,11 persen.
Pertumbuhan ekonomi nasional terutama ditopang konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah, termasuk momentum Hari Besar Keagamaan Nasional serta realisasi berbagai program pemerintah.
Sementara itu, Maluku Utara kembali mencatat kinerja ekonomi impresif. Pada triwulan I 2026, pertumbuhan ekonomi daerah mencapai sekitar 19,64 persen dan menempatkan Maluku Utara sebagai salah satu provinsi dengan pertumbuhan tertinggi di Indonesia.
Menurut Handi, capaian tersebut didorong aktivitas industri pengolahan dan sektor pertambangan, terutama pengembangan proyek smelter feronikel serta peningkatan kapasitas produksi di sejumlah kawasan industri.
“Maluku Utara masih memiliki prospek pertumbuhan yang kuat. Pada triwulan II kami memperkirakan pertumbuhan tetap tinggi di kisaran 12 hingga 18 persen, meski lajunya berpotensi lebih rendah dibanding triwulan pertama,” jelasnya.
Meski begitu, BI mengingatkan sejumlah risiko yang perlu diantisipasi. Salah satunya keterbatasan pasokan bijih nikel akibat penyesuaian kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) sektor minerba tahun 2026.
Kondisi tersebut berpotensi menahan ekspansi industri pengolahan nikel dan memengaruhi volume ekspor feronikel, terutama ke pasar Tiongkok.
Selain sektor pertambangan, potensi gangguan rantai pasok global akibat konflik geopolitik di Timur Tengah juga menjadi tantangan bagi distribusi bahan baku industri.
Di sisi inflasi, Handi menyebut kondisi Maluku Utara masih relatif terkendali. Inflasi tahunan daerah berada di kisaran 0,203 persen, lebih rendah dibanding inflasi nasional sebesar 2,42 persen.
Beberapa komponen yang memicu kenaikan harga di daerah antara lain tarif angkutan udara, penyesuaian tarif transportasi laut, serta kenaikan harga komoditas pangan seperti bawang, cabai, dan tomat.
“Gangguan cuaca pada awal tahun juga sempat memengaruhi hasil tangkapan nelayan sehingga berdampak pada harga ikan segar,” katanya.
Untuk menjaga stabilitas harga hingga akhir tahun, BI bersama pemerintah daerah terus memperkuat distribusi pangan melalui program kios sigap pangan, fasilitasi distribusi bersama Bulog, operasi pangan murah, hingga inspeksi pasar.
Handi optimistis pertumbuhan ekonomi Maluku Utara tetap terjaga selama ekspansi industri pengolahan terus berjalan dan pengendalian inflasi dilakukan secara konsisten.
“Pasokan nikel dan kelancaran distribusi tetap menjadi faktor utama yang perlu diantisipasi agar pertumbuhan ekonomi dan stabilitas harga tetap terjaga,” pungkasnya. (Red)






