Feature
Beranda » Blog » Tongkat dan Teh Kelor, Jalan Panjang Bunda Ning

Tongkat dan Teh Kelor, Jalan Panjang Bunda Ning

Bunda Ning memetik daun kelor sebagai bahan baku membuat produk olahan minuman herbal teh kelor / Dok : Lentera Malut

LENTERA MALUT – Sore itu, langkah pelan seorang perempuan bertumpu pada tongkat yang selalu menemaninya. Dari rumah sederhana di lingkungan Tobenga, Kelurahan Kasturian, Kecamatan Ternate Utara, ia menyambut kedatangan tamu dengan senyum hangat. Perempuan itu adalah Nurnaningsi Yusup, yang akrab disapa Bunda Ning.

Di tengah keterbatasan fisik yang dialaminya, Bunda Ning memilih terus bergerak. Ia tidak membiarkan kondisi lumpuh pada kakinya menghentikan langkah hidupnya. Dengan semangat yang tak pernah padam, ia membangun usaha teh daun kelor untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarganya.

“Masuk dulu, nanti kita ke kebun ambil daun kelor,” ujarnya ramah.

Tak lama kemudian, Bunda Ning mengajak kami menuju lokasi tempat ia biasa memanen daun kelor. Di sepanjang perjalanan, ia mulai bercerita tentang awal mula usaha yang kini menjadi sumber penghasilan keluarganya.

Ide itu lahir ketika ia mengikuti pelatihan pemberdayaan yang diselenggarakan organisasi penyandang disabilitas. Dari berbagai pilihan keterampilan yang ditawarkan, ia memilih bidang kuliner dan belajar mengolah daun kelor menjadi teh.

Kisah Afni, Jurnalis yang Kini Menjadi Bupati Siak

“Saya ikut pelatihan pemberdayaan. Waktu itu ada banyak pilihan, seperti kerajinan tangan dan lainnya. Saya memilih belajar membuat teh daun kelor,” kenangnya.

Pilihan itu bukan tanpa alasan. Pohon kelor tumbuh subur di sekitar tempat tinggalnya sehingga bahan baku mudah diperoleh. Melihat peluang tersebut, ia memberanikan diri memulai usaha meski hanya bermodalkan dana seadanya.

Berbeda dengan sebagian pelaku usaha yang memanfaatkan pinjaman perbankan, Bunda Ning memulai usahanya secara perlahan menggunakan kemampuan yang dimiliki. Kondisi ekonomi keluarga membuatnya harus berhitung cermat dalam setiap langkah.

Apalagi, di tengah perjuangan membangun usaha, ia juga harus mendampingi putrinya yang tengah berjuang melawan gangguan kesehatan dan membutuhkan operasi telinga di Makassar.

“Anak perempuan saya masih menunggu operasi telinga,” katanya lirih.

AI Boleh Tulis Berita Tanpa Wawancara? Dewan Pers Jelaskan Ini !

Beban hidup yang tidak ringan itu justru menjadi alasan baginya untuk terus berusaha. Ia percaya setiap ikhtiar akan membuka jalan.

Di lingkungan tempat tinggalnya, Bunda Ning dikenal sebagai sosok yang ramah dan mudah bergaul. Anak-anak hingga orang tua menyapanya akrab saat ia melintas. Kehangatan itu terlihat sepanjang perjalanan menuju lokasi pengambilan daun kelor.

Usaha yang dijalankannya memang tidak mudah. Setelah dipetik, daun kelor harus melalui serangkaian proses sebelum siap dikonsumsi.

Proses membungkus serbuk daun kelor menjadi teh kelor

Daun-daun segar terlebih dahulu dicuci menggunakan air mengalir, kemudian dijemur hingga benar-benar kering. Cuaca menjadi tantangan terbesar dalam proses produksi.

“Kalau cuaca bagus, prosesnya sekitar tiga hari. Kalau hujan bisa sampai enam hari karena penjemuran hanya bisa dilakukan dari dalam rumah,” jelasnya.

Forum Penting KPK Belum Usai, Gubernur Sherly Pilih Pergi

Setelah kering, daun kelor disangrai menggunakan api kecil, lalu dicacah hingga halus sebelum dimasukkan ke dalam kantong teh.

Dari tangan Bunda Ning, daun kelor yang selama ini tumbuh liar di sekitar lingkungan berubah menjadi produk bernilai ekonomi. Ia menjual satu kemasan berisi 10 kantong teh dengan harga Rp20 ribu. Produk tersebut juga dipasarkan di sejumlah toko oleh-oleh dengan variasi ukuran dan harga yang berbeda.

Nama merek yang ia gunakan pun memiliki makna khusus. Ia mengambil nama putrinya sebagai identitas usaha, sebuah bentuk cinta sekaligus harapan agar sang anak segera pulih dan meraih masa depan yang lebih baik.

Sebelum menekuni usaha teh kelor, Bunda Ning pernah menjalankan usaha jahit dengan nama Brilian Taylor. Seiring waktu, ia beralih ke usaha makanan dan minuman olahan yang kini dikenal dengan nama Brilian Ternate.

Perjalanan hidup Bunda Ning sendiri tidak selalu berjalan mulus. Setelah dua tahun menjalani pernikahan, ia divonis mengalami kelumpuhan pada kaki. Kondisi itu mengubah banyak hal dalam hidupnya. Namun, ia menolak menyerah pada keadaan.

Bersama suami dan kedua anaknya, ia terus berjuang membangun kehidupan yang lebih baik.

Rumah sederhana yang mereka tempati menjadi saksi dari perjalanan panjang tersebut. Sebagian dinding belum diplester, sementara atap rumah masih tampak tanpa plafon. Namun di balik kesederhanaan itu, tersimpan keteguhan hati yang tak mudah runtuh.

Saat kondisi fisiknya tidak memungkinkan untuk mengambil daun kelor, anak sulungnya ikut membantu.

“Kalau saya tidak bisa pergi, biasanya anak saya yang pertama yang ambil daun kelor di bawah barangka,” tuturnya.

Kini Bunda Ning memproduksi dua varian teh kelor, yakni teh kelor original dan teh kelor rempah. Untuk varian rempah, ia menambahkan campuran kayu manis dan cengkeh guna memberikan aroma serta cita rasa yang khas.

Kerja keras yang ia bangun selama empat tahun perlahan mulai mendapat perhatian. Pada 2026, Bank Indonesia Provinsi Maluku Utara melalui program kurasi UMKM menetapkannya sebagai salah satu pelaku usaha binaan yang dipersiapkan untuk naik kelas.

Pengakuan tersebut menjadi penyemangat baru bagi Bunda Ning untuk terus mengembangkan usahanya.

Dalam sebulan, sekitar 30 kemasan teh kelor berhasil terjual. Selain itu, ia juga memproduksi berbagai camilan khas seperti stik kelor, kue bilolo, kenari goreng, dan aneka olahan lainnya.

Bagi sebagian orang, teh kelor mungkin hanya minuman herbal biasa. Namun bagi Bunda Ning, setiap kemasan yang terjual menyimpan cerita tentang perjuangan, ketabahan, dan harapan.

Tongkat yang selalu menemani langkahnya memang menjadi simbol keterbatasan. Tetapi dari tangan yang sama, lahir secangkir teh kelor yang menjadi simbol keberanian untuk terus bangkit dan melangkah maju.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement