LENTERA MALUT – RSUD Dr. H. Chasan Boesoirie Ternate terus memperkuat layanan kesehatan, terutama pada sektor jantung. Pengembangan layanan tersebut ditandai dengan beroperasinya Gedung Jantung Terpadu yang kini menjadi pusat pelayanan jantung bagi masyarakat Maluku Utara.
Sejak 1 September 2026, RSUD Chasan Boesoirie mulai mengintegrasikan seluruh alur pelayanan jantung dalam satu gedung, mulai dari layanan poliklinik hingga tindakan medis. Langkah ini menjadi bagian dari upaya rumah sakit meningkatkan kualitas sekaligus memperluas akses pelayanan jantung di Maluku Utara.
Pengembangan layanan tersebut juga telah memasuki tahap tindakan intervensi. RSUD Chasan Boesoirie melaksanakan proctorship catlab, termasuk tindakan pemasangan ring jantung, sebagai bagian dari penguatan kemampuan pelayanan jantung.
Manajemen rumah sakit bahkan menargetkan pelaksanaan bedah jantung terbuka dapat dimulai pada November 2026. Untuk mewujudkan target tersebut, RSUD Chasan Boesoirie mendapat dukungan pengampuan dari RS Harapan Kita, RSCM, dan Rumah Sakit Suto.
Direktur RSUD Chasan Boesoirie Ternate, dr. Rosita Alkatiri, mengatakan manajemen terus mempersiapkan tenaga kesehatan, peralatan medis, maupun fasilitas pendukung agar pengembangan layanan jantung dapat berjalan sesuai target.
“Mulai 1 September, pelayanan jantung sudah kami integrasikan dalam satu gedung. Kami terus mempersiapkan seluruh kebutuhan, termasuk tenaga kesehatan, peralatan, dan fasilitas untuk pengembangan layanan bedah jantung,” katanya kepada lenteramalut.com usai kunjungan DPRD Malut, Senin, (14/9/2026).
Menurutnya, pengembangan layanan jantung merupakan langkah penting untuk meningkatkan kemampuan RSUD Chasan Boesoirie sekaligus mengurangi ketergantungan pasien terhadap rumah sakit rujukan di luar Maluku Utara.
“Kami berharap pengembangan layanan ini bisa berjalan sesuai target sehingga ke depan pasien jantung dari Maluku Utara tidak perlu lagi dirujuk ke luar daerah,” ujarnya.
Tidak hanya layanan jantung, RSUD Chasan Boesoirie juga menyiapkan modernisasi sejumlah fasilitas rumah sakit. Salah satunya melalui rencana pembangunan gedung baru di sisi timur rumah sakit yang saat ini masih ditempati bangunan lama.
Rosita mengatakan bangunan tersebut sudah cukup tua dan membutuhkan pembenahan menyeluruh. Manajemen kini menjalankan proses pemusnahan aset sebelum gedung lama dibongkar dan digantikan dengan fasilitas baru.
“Gedung di sisi timur ini sudah cukup tua sehingga membutuhkan pembenahan secara menyeluruh. Kami sedang melakukan proses pemusnahan aset terlebih dahulu, setelah itu kami akan membongkar bangunan lama dan menyiapkan pembangunan gedung baru,” jelasnya.
Rencana modernisasi tersebut sekaligus menjadi upaya rumah sakit mengatasi keterbatasan lahan dan menyesuaikan fasilitas dengan kebutuhan pelayanan yang terus berkembang.
Manajemen memastikan proses pengembangan fasilitas tidak akan mengganggu pelayanan pasien yang sedang berjalan.
“Kami tetap menjaga agar seluruh fasilitas dan pelayanan pasien berjalan lancar. Pengembangan maupun pembenahan gedung tidak boleh mengganggu pelayanan kepada masyarakat,” tegas Rosita.
Perkembangan RSUD Chasan Boesoirie tersebut mendapat apresiasi dari DPRD Provinsi Maluku Utara. Ketua DPRD Maluku Utara Iqbal Ruray bersama Wakil Ketua I, II dan III serta Sekretaris DPRD menemui Direktur RSUD Chasan Boesoirie beserta jajaran untuk melihat langsung perkembangan pelayanan dan kebutuhan rumah sakit.
Iqbal menilai pengembangan layanan jantung, termasuk pemasangan ring jantung, merupakan kemajuan yang patut diapresiasi. DPRD berharap kemampuan tersebut terus ditingkatkan hingga RSUD mampu melaksanakan operasi jantung secara mandiri.
“Yang paling utama tentu kita melihat perkembangan pelayanan kesehatan di RSUD Chasan Boesoirie. Kita mengapresiasi pelayanan jantung yang sudah berjalan, termasuk tindakan pemasangan ring jantung. Ke depan, kita mendorong agar operasi jantung bisa segera dilaksanakan,” kata Iqbal.
Ia berharap target operasi jantung pada November 2026 dapat terealisasi. Dengan demikian, masyarakat Maluku Utara memiliki alternatif pelayanan jantung di dalam daerah tanpa harus selalu menjalani rujukan ke luar provinsi.
“Kita berharap target operasi jantung pada November bisa terealisasi. Dengan begitu, masyarakat Maluku Utara tidak lagi harus keluar daerah untuk mendapatkan pelayanan jantung yang selama ini membutuhkan rujukan,” ujarnya.
Selain mengapresiasi layanan jantung, DPRD juga mendorong peningkatan layanan hemodialisis atau cuci darah yang dinilai memiliki kebutuhan tinggi dan harus ditunjang dengan fasilitas serta pelayanan yang memadai.
Di sisi lain, DPRD mencatat sejumlah kebutuhan penunjang yang masih harus diperkuat RSUD Chasan Boesoirie. Salah satunya keterbatasan genset untuk menjaga pelayanan tetap berjalan ketika terjadi gangguan listrik.
Iqbal mengatakan DPRD akan membahas kebutuhan pengadaan genset bersama Gubernur Maluku Utara dan Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD), termasuk kemungkinan mengakomodasinya melalui APBD Perubahan.
Persoalan lain yang turut menjadi perhatian adalah utang obat kepada Perusahaan Besar Farmasi (PBF) yang merupakan kewajiban bawaan sejak 2022 dengan nilai sekitar Rp6 miliar.
DPRD mendorong adanya skema penyelesaian secara bertahap melalui dukungan APBD.
“Utang obat ini harus kita selesaikan. Nilainya masih sekitar Rp6 miliar dan menjadi kewajiban yang harus dibiayai melalui APBD. Kami akan mencari skema penyelesaian secara bertahap bersama TAPD,” ujar Iqbal.
Dukungan DPRD tersebut diharapkan dapat berjalan seiring dengan pembenahan internal dan pengembangan layanan RSUD Chasan Boesoirie. Penguatan layanan jantung, modernisasi fasilitas, peningkatan hemodialisis, serta pemenuhan infrastruktur penunjang menjadi bagian dari upaya menjadikan rumah sakit tersebut semakin mampu memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat Maluku Utara.
Dengan mulai berkembangnya layanan jantung terpadu hingga persiapan operasi jantung, RSUD Chasan Boesoirie perlahan memperkuat posisinya sebagai rumah sakit rujukan utama di Maluku Utara. (Red)

Komentar