LENTERA MALUT– Pasar Syariah Sasa, Kota Ternate, kini menghadapi kondisi yang memprihatinkan. Aktivitas perdagangan di dalam gedung pasar nyaris tidak berjalan, sementara sebagian pedagang memilih berjualan di sepanjang jalan.
Kondisi itu membuat Asmi (59), pedagang Barito—bawang, rica, dan tomat—harus bertahan seorang diri membuka lapak di dalam gedung pasar yang sepi.
Setiap hari, Asmi tetap datang dan menunggu pembeli meski omzetnya tidak menentu. Ia mengaku hanya mampu meraup sekitar Rp200 ribu pada hari yang ramai. Bahkan, ia terkadang tidak mendapatkan pembeli sama sekali.
“Kalau sehari paling banyak bisa laku Rp200 ribu, kadang juga sehari tidak laku. Bahkan tomat kadang busuk,” kata Asmi.
Kondisi pasar yang sepi juga membuat Asmi menghadapi risiko kerugian. Barang dagangan seperti tomat tidak bisa bertahan lama ketika pembeli minim.
Meski begitu, Asmi memilih tetap bertahan. Ia berharap Pemerintah Kota Ternate memperbaiki fasilitas pasar dan mengajak kembali para pedagang untuk berjualan di dalam gedung.
“Harapannya dorang (pemerintah) bisa perbaiki pasar ini, lalu kasih masuk pedagang di sini, biar ramai, supaya torang bisa dapat rezeki, walaupun tak banyak,” harapnya.

Asmi seorang pedagang yang bertahan tetap berjualan di pasar Sasa / Dok : Andi M.
Persoalan tersebut turut mendapat perhatian Anggota DPRD Kota Ternate, Ridwan AR. Ia mendesak Pemerintah Kota Ternate segera mengambil langkah nyata untuk membenahi sekaligus menghidupkan kembali aktivitas Pasar Sasa.
Ridwan menyampaikan desakan itu setelah melakukan kunjungan kerja sebanyak tiga hingga empat kali ke Pasar Sasa selama masa sidang ketiga. Dalam setiap kunjungan, ia menerima langsung aspirasi masyarakat yang meminta pemerintah memperbaiki fasilitas pasar.
“Lagi-lagi harapan yang disampaikan masyarakat terkait fasilitas. Mereka memohon pemerintah melihat apa yang diharapkan masyarakat, terutama soal perbaikan fasilitas pasar di Sasa,” ujar Ridwan.
Menurut Ridwan, pemerintah justru memiliki peluang besar untuk mengembangkan Pasar Sasa karena kawasan tersebut mempunyai potensi ekonomi yang kuat. Lokasi pasar berada di sekitar sejumlah perguruan tinggi dan menjadi bagian dari kawasan dengan aktivitas mahasiswa yang cukup tinggi.
“Kalau kita lihat dari sektor ekonomi, Pasar Sasa itu sangat menjanjikan. Di sana diapit berbagai kampus, ada Unkhair dan Muhammadiyah. Tentunya pasar ini sangat potensial karena banyak mahasiswa yang membutuhkan pelayanan dan fasilitas untuk memenuhi kebutuhan pokok,” jelasnya.
Namun, Ridwan menyayangkan pemerintah kota belum mengambil kebijakan konkret untuk membenahi pasar tersebut. Bahkan, hingga kunjungan kerjanya yang keempat, ia belum melihat langkah nyata pemerintah untuk mengembalikan fungsi pasar.
“Kunjungan kita yang keempat ini lagi-lagi belum menghasilkan kebijakan dari pemerintah soal pembenahan pasar yang ada di Sasa. Kami tetap mendorong dan memperhatikan Pasar Sasa sebagai aset pemerintah karena pasar ini sangat berpengaruh terhadap kepentingan ekonomi masyarakat,” tegasnya.
Ridwan juga menyoroti aktivitas perdagangan yang kini justru bergeser dari dalam gedung pasar ke badan jalan.
Menurut pengamatannya, masyarakat hampir tidak menggunakan bangunan Pasar Sasa untuk transaksi sembako. Pedagang justru memilih membuka lapak di sepanjang Jalan Sasa karena aktivitas pembeli lebih banyak berlangsung di kawasan tersebut.
“Dilihat secara kasat mata, aktivitas jual beli sembako di dalam pasar ini hampir tidak digunakan. Tetapi kegiatan itu justru berjalan di sepanjang Jalan Sasa,” ungkapnya.
Ridwan meminta pemerintah tidak membiarkan kondisi tersebut berlarut-larut. Ia mendorong pihak Kelurahan Sasa membangun komunikasi dengan pemuda dan Pemerintah Kota Ternate untuk mencari solusi bersama.
“Saya mengimbau Lurah membangun komunikasi dengan pemuda Sasa agar Pasar Sasa bisa kembali aktif. Ini menjadi perhatian pemerintah setempat, dalam hal ini lurah, untuk meningkatkan kerja-kerja pemerintah dan membangun kolaborasi dengan pemerintah kota demi kepentingan warga Sasa,” tandasnya.
Bagi Asmi, menghidupkan kembali Pasar Sasa bukan sekadar memperbaiki bangunan. Langkah itu juga membuka kembali peluang ekonomi bagi pedagang yang selama ini bertahan di tengah sepinya aktivitas pasar. (Red)

Komentar