Feature
Beranda » Blog » Menjemput Sunyi dan Jejak Perang di Pulau Meti 

Menjemput Sunyi dan Jejak Perang di Pulau Meti 

Panorama tepian pantai Pulau Meti, Halmahera Utara / Dok : Umam lenteramalut

LENTERA MALUT — Di balik jernihnya lautan biru Pulau Meti, Kabupaten Halmahera Utara, tersimpan sebuah oasis tersembunyi yang menawarkan ketenangan mutlak bagi jiwa yang lelah. Jauh dari bising perkotaan, pulau seluas 10 kilometer persegi ini tidak hanya menyajikan panorama laut yang menawan, tetapi juga keintiman mendalam dengan alam bebas yang berpadu erat dengan jejak sejarah Perang Dunia II.

Suasana syahdu dan privat akan sangat terasa jika Anda berkunjung pada hari kerja, antara Senin hingga Kamis. Lokasi resor yang terletak jauh dari pusat aktivitas warga membuat pulau kecil ini terasa sunyi, seolah menjadi pulau pribadi milik Anda sendiri. Di sini, waktu seolah melambat, memberikan ruang bagi para pelancong untuk merenung, melepaskan penat, dan menikmati keheningan yang intim bersama alam Maluku Utara.

Daya Pikat Kesunyian ala Turis Mancanegara 

Sisi utara kawasan resort pantai Pulau Meti / Umam

Ketenangan yang tercipta karena jarak pemukiman yang jauh ini rupanya telah memikat hati wisatawan dunia. Turis asing dari Belanda, Portugis, Swiss, hingga Prancis kerap datang dan menghabiskan waktu berminggu-minggu di sini. Bahkan, ada yang betah tinggal hingga dua bulan lamanya demi mengejar kesunyian yang intim tersebut.

Uniknya, para wisatawan mancanegara ini memiliki preferensi akomodasi yang sangat spesifik. “Mereka justru berburu fasilitas yang membuat mereka merasa benar-benar menyatu dengan alam,” ujar Hadi, pengelola resor Pulau Meti.

Sinergi BI Maluku Utara Dan Media Angkat Potensi Wisata Meti

Kamar-kamar tipe Gazebo tanpa pendingin ruangan (AC) dan tanpa air panas justru menjadi pilihan favorit pelancong asing. Tanpa sekat modern, udara terbuka bebas berembus dan suara desiran ombak yang memecah kesunyian malam menjadi melodi alami yang mengantar tidur. Sebuah kemewahan sederhana yang sulit ditemukan di dunia modern.

Kamar Gazebo yang dibangun menggunakan bambu cincang khas pulau Meti / Umam

Akomodasi di kawasan resor Pulau Meti dirancang untuk menjaga privasi dengan sistem full board (sudah termasuk biaya makan tiga kali sehari dan camilan dua kali sehari). Pilihan paling intim adalah Kamar Gazebo seharga Rp750.000 per orang per hari. Sebanyak 8 unit kamar berbahan kayu dan bambu ini berdiri persis di bibir pantai, menawarkan pemandangan laut lepas yang personal.

Bangunan nuansa hutan tropis berdiri indah di tengah kawasan resor / Umam

Bagi wisatawan yang menginginkan kenyamanan eksklusif dalam kesendirian, tersedia tipe Villa VVIP. Kamar kelas tertinggi ini dilengkapi dengan fasilitas penyejuk udara (AC) serta kamar mandi dalam yang estetik, dengan sentuhan dekorasi interior yang hangat dan memanjakan mata.

Kamar Villa VVIP bagian bawah dibanderol seharga Rp2,5 juta per hari untuk kapasitas dua tempat tidur. Sementara untuk kapasitas yang lebih besar, tarifnya berkisar hingga Rp4,5 juta per hari.

Tampak luar kamar kelas VVIP yang terbagi dalam dua lantai / Umam

Urusan kuliner pun disajikan secara hangat untuk melengkapi suasana syahdu. Menu masakan laut (seafood) segar seperti cumi, ikan, dan udang disajikan bersama kuliner lokal khas Maluku Utara seperti pisang santan dan ubi. Sebagai pelengkap keintiman sore hari, pisang goreng dabu-dabu yang ikonik akan diantarkan ke hadapan Anda, disusul wafel hangat pada malam hari yang tenang.

Kakek Hilang Di Haltim Selamat Usai Temui Suku Pedalaman

Namun, kenyamanan alam ini harus dibarengi dengan tanggung jawab yang besar. Kelestarian lingkungan menjadi harga mati di pulau ini demi menjaga kesucian alamnya.

“Di pulau ini kita punya aturan main. Kita tidak boleh membuang sampah atau puntung rokok ke laut demi menjaga kelestarian lingkungan,” pesan Hadi tegas kepada para wisatawan yang baru datang.

Menapaki Keheningan Sejarah Perang Dunia II 

Selain pantainya yang sepi, daya tarik Pulau Meti terletak pada perjalanan sejarahnya yang sunyi. Pengunjung dapat menyusuri jalanan setapak selama 10 hingga 20 menit melewati deretan pohon kelapa dan para-para tempat warga mengolah kopra. Embusan angin sepoi-sepoi dan gemerisik daun kelapa menjadi satu-satunya suara yang menemani langkah Anda.

Wartawan bertemu Ibu Jo, Petani Kopra tampak mengendarai Sapi mengangkut buah kelapa saat sedang berjalan menyusuri jejak sejarah Perang Dunia II / Umam

Pulau ini menyimpan memori kolektif sisa Perang Dunia II yang kini telah menyatu dengan alam. Di bagian timur pulau, wisatawan bisa melihat langsung peninggalan artileri berupa kanon atau meriam milik tentara Jepang dengan panjang hampir 6 meter yang membisu di tepi pantai. Kawasan bersejarah yang tenang ini berjarak sekitar 2 kilometer dari area penginapan.

Komisi II DPRD Ternate Tuntut Keberpihakan Anggaran Digitalisasi

Sebuah bangkai artileri atau meriam yang disebut warga merupakan peninggalan Jepang / Umam

Bagi yang ingin bersosialisasi dengan penduduk setempat untuk mencari cerita-cerita lokal yang tak terdengar masyarakat umum, terdapat perkampungan yang dihuni oleh sekitar 300 Kepala Keluarga (KK). Anda hanya perlu menyapa dan mengobrol dengan warga yang sedang berkebun atau mengolah kelapa di sepanjang jalan pulau.

Seorang petani kopra sedang membakar buah kelapa di tengah perjalanan menuju lokasi peninggalan sejarah perang dunia II / Dok : Umam

Bagi pencinta dunia bawah laut, petualangan yang sunyi juga terkubur di dalam air. Titik penyelaman (diving) yang paling diminati adalah lokasi bangkai pesawat tempur Jepang. Menemukannya tidaklah mudah karena titik koordinatnya kerap bergeser akibat pergerakan pasir dasar laut dan hantaman ombak, menjadikannya sebuah rahasia alam yang eksklusif.

Saat ini, hanya ada satu atau dua warga lokal di Pulau Meti yang mengetahui lokasi pastinya secara akurat. Jika tertarik, pihak pengelola resor siap membantu menghubungkan wisatawan dengan instruktur menyelam setempat untuk mengeksplorasi keindahan bawah laut secara privat.

Panduan Rute dan Estimasi Biaya 

Bagi Anda yang mendambakan pelarian intim ke Pulau Meti, berikut adalah panduan perjalanan dan rincian biayanya:

1. Perjalanan Menuju Tobelo

  • Jalur Laut (Ternate – Sofifi): Perjalanan dimulai dari Kota Ternate menyeberang ke Sofifi (Kota Tidore Kepulauan) menggunakan speedboat dengan tarif Rp63.000.
  • Jalur Darat (Sofifi – Tobelo): Setiba di dermaga Sofifi, perjalanan dilanjutkan menggunakan mobil melintasi jalur darat sejauh 170 km hingga 200 km. Perjalanan ini memakan waktu sekitar 4 sampai 5 jam (atau sekitar 2 jam jika menggunakan rute alternatif tercepat).

2. Penyeberangan ke Pulau Meti

  • Perahu Ketinting (Desa Mawea – Pulau Meti): Dari Tobelo, perjalanan darat diarahkan ke Desa Mawea. Wisatawan menaiki perahu kecil atau ketinting milik warga lokal dengan tarif Rp20.000 per orang untuk sekali jalan (waktu tempuh sekitar 5 menit). Jika ingin kenyamanan ekstra dan privasi penuh, Anda bisa menyewa perahu secara privat dengan tarif berkisar Rp250.000.

3. Biaya Kawasan & Aktivitas

  • Tiket Masuk Wisatawan Non-Menginap: Bagi pengunjung yang tidak menginap, dikenakan tiket masuk kawasan resor sebesar Rp100.000 per orang.
  • Sewa Alat Snorkeling Sederhana:
  • Jaket pelampung (life jacket): Rp25.000
  • Kacamata selam (mask/goggles): Rp50.000
  • Kaki katak (fins): Rp25.000

Bagi Anda yang berencana melakukan reservasi kamar atau membutuhkan informasi lebih lanjut mengenai penginapan di Pulau Meti, Anda dapat menghubungi pihak pengelola di nomor kontak 0813-1939-2624.

Datanglah ke Pulau Meti, letakkan gawai Anda, batasi interaksi dengan hiruk-pikuk dunia, dan biarkan keheningan Maluku Utara memeluk serta memulihkan jiwa Anda yang lelah. (Red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement