Ekonomi
Beranda » Blog » Tarif Pesawat, Ikan dan Bensin Dongkrak Inflasi Malut Juni 2026

Tarif Pesawat, Ikan dan Bensin Dongkrak Inflasi Malut Juni 2026

Aktivitas jual beli ikan laut segar di pasar Higienis, Gamalama, Kota Ternate / Dok : LM

LENTERA MALUT – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku Utara mencatat inflasi tahunan (year on year/y-on-y) pada Juni 2026 mencapai 5,05 persen. Kenaikan harga dipicu terutama oleh melonjaknya tarif angkutan udara, harga ikan, bahan bakar, dan sejumlah komoditas pangan.

Berdasarkan Berita Resmi Statistik (BRS) yang dirilis BPS Maluku Utara pada Rabu (1/7/2026), inflasi tersebut membuat Indeks Harga Konsumen (IHK) Provinsi Maluku Utara naik menjadi 115,76. Kota Ternate mencatat inflasi tertinggi sebesar 5,48 persen, sedangkan Kabupaten Halmahera Tengah sebesar 3,11 persen.

Kepala Bagian Umum BPS Provinsi Maluku Utara, Harim Arrosid, mengatakan inflasi terjadi karena kenaikan harga pada hampir seluruh kelompok pengeluaran masyarakat.

“Inflasi tahunan Maluku Utara pada Juni 2026 tercatat sebesar 5,05 persen. Kenaikan harga terjadi pada sepuluh kelompok pengeluaran, terutama transportasi, makanan, minuman dan tembakau, serta perawatan pribadi. Kondisi ini perlu menjadi perhatian bersama agar stabilitas harga tetap terjaga,” ujar Harim.

Kelompok transportasi menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan kenaikan 12,22 persen. Disusul kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 6,73 persen, perawatan pribadi dan jasa lainnya 6,69 persen, serta penyediaan makanan dan minuman atau restoran sebesar 4,60 persen. Sementara itu, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya menjadi satu-satunya kelompok yang mengalami deflasi sebesar 0,35 persen.

Nilai TKA Maluku Utara Peringkat 27 Nasional Tuai Sorotan

BPS mencatat tarif angkutan udara menjadi komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi, diikuti ikan cakalang, bensin, emas perhiasan, bahan bakar rumah tangga, bawang merah, ikan malalugis, ikan tuna, minyak goreng, beras, hingga cabai rawit. Sebaliknya, tarif angkutan laut, kangkung, bawang putih, cabai merah, dan beberapa komoditas lainnya menahan laju inflasi karena mengalami penurunan harga.

Selain inflasi tahunan, Maluku Utara juga mencatat inflasi bulanan (month to month/m-to-m) sebesar 2,45 persen dan inflasi tahun kalender (year to date/y-to-d) sebesar 5,16 persen.

Harim menjelaskan, kenaikan harga pada sektor transportasi dan bahan pangan menjadi faktor dominan yang mendorong inflasi bulan Juni. Karena itu, ia berharap seluruh pemangku kepentingan terus memperkuat koordinasi dalam menjaga ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi barang.

“Stabilitas harga membutuhkan sinergi semua pihak, baik pemerintah daerah, pelaku usaha, maupun masyarakat. Pengendalian inflasi harus dilakukan melalui penguatan pasokan dan distribusi agar daya beli masyarakat tetap terjaga,” katanya.

BPS juga mencatat kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil inflasi terbesar, yakni 2,34 persen. Komoditas yang paling berpengaruh di antaranya ikan cakalang, bawang merah, ikan malalugis, ikan tuna, minyak goreng, dan beras. Sementara kelompok transportasi menyumbang inflasi sebesar 1,25 persen yang didominasi kenaikan tarif angkutan udara dan harga bensin.

NTP Maluku Utara Turun, Daya Beli Petani Tetap Terjaga

Data BPS menunjukkan tren inflasi tahunan Maluku Utara meningkat dibandingkan Juni 2025 yang hanya sebesar 2,01 persen. Kondisi tersebut menjadi sinyal perlunya langkah pengendalian harga yang lebih efektif agar tekanan inflasi tidak semakin membebani masyarakat. (Red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement